Setop Obat Sirop, Menkes Telah Bicara dengan Industri dan Apoteker

Kemenkes dan RSCM juga telah mengimpor obat dari Singapura untuk mengobati pasien gagal ginjal akut.
Ameidyo Daud Nasution
21 Oktober 2022, 11:46
obat, obat sirop, gagal ginjal akut
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/rwa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) berpidato saat menghadiri Kampanye Pemberantasan Gizi Buruk di Serang, Banten, Kamis (20/10/2022).

Pemerintah telah menyetop sementara penggunaan obat sirop usai munculnya penyakit gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan ia telah berbicara dengan industri farmasi, apoteker, hingga dokter agar mereka memahami keputusan tersebut.

Budi mengatakan keputusan ini diambil untuk menyelamatkan nyawa pasien. Apalagi laju kematian pasien gagal ginjal akut terus bertambah.

"Karena ini untuk menyelamatkan anak-anak, sambil kami teliti (obat) mana yang mengandung bahan berbahaya," katanya dalam agenda pemaparan kinerja pemerintah pada Jumat (21/10).

 

Advertisement

Budi mengatakan laju kematian gagal ginjal akut di Indonesia melonjak pada Agustus 2022. Awalnya, ia menduga hal tersebut terjadi karena adanya infeksi virus hingga bakteri.

Namun hal tersebut berubah setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan tiga zat berbahaya di obat-obatan jenis sirop. Akhirnya, Kementerian Kesehatan melakukan investigasi dan menemukan adanya dampak senyawa kimia di ginjal mereka.

"Lalu kami datangi rumah mereka, kami menemukan ada obat-obatan yang perlu dijaga (ditarik). Akhirnya secara konservatif, kami setop dulu," ujarnya.

Saat ini Kemenkes dan  Tim Ahli Ginjal Nasional dari RSUPN Dokter Cipto Mangunkusumo telah menyiapkan obat yang diimpor dari Singapura bagi pasien gagal ginjal akut. Dari hasil pengujian, empat dari enam pasien merespons positif obat tersebut.

"Begitu positif akan kami datangkan dalam jumlah banyak dan sebarkan di rumah sakit karena sudah ada 20 provinsi yang melaporkan penyakit ini," kata Budi.

Budi berharap adanya obat ini bisa menurunkan laju kematian pasien gagal ginjal akut. Ia menjelaskan tingginya angka kematian lantaran model pengobatan yang belum diketahui.

"Makanya kami datangkan dalam jumlah besar untuk melindungi balita-balita kita kalau keracunan," katanya.

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis lima merek obat yang diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Keputusan ini setelah BPOM melakukan hasil pengujian hingga 19 Oktober 2022. 

Adapun lima merek obat sirop tersebut adalah:

1. Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml.

4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml.

5. Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait