BPJT Bujuk Semua Operator Agar Mau Terapkan Bayar Tol Tanpa Henti

Andi M. Arief
30 November 2022, 18:11
tol, bpjt, bayar tol tanpa henti
ANTARA FOTO/Aji Styawan/tom.
Sejumlah kendaraan roda empat yang didominasi pemudik melaju saat akan memasuki Gerbang Tol (GT) Kalikangkung, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (7/5/2022).

Badan Pengelola Jalan Tol atau BPJT saat ini sedang membujuk seluruh operator jalan tol mengimplementasikan teknologi transaksi nontunai nirsentuh. Mereka menjanjikan sistem tersebut dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional.

Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan efisiensi yang bisa didapatkan para badan usaha jalan tol atau BUJT setidaknya 10% - 15% dari biaya operasional saat ini. Menurutnya, tantangan terbesar yang sedang dihadapi oleh BUJT adalah biaya transisi dari transaksi nontunai menjadi non tunai nirsentuh.

"Jadi, tantangan kami adalah untuk meyakinkan BUJT bahwa sistem yang kita tawarkan secara internal lebih menguntungkan," kata Danang di Jakarta, Rabu (30/11).

Danang menjelaskan transaksi nontunai dan nirsentuh masuk dalam kelompok biaya operasional dalam keuangan BUJT. Ia memperkirakan total biaya operasional yang dikeluarkan seluruh BUJT sepanjang 2022 mencapai Rp 3 triliun.

Danang menghitung biaya operasional berkontribusi sekitar 5% - 10% dari nilai transaksi jalan tol per tahun. Menurutnya, nilai transaksi jalan tol nasional pada tahun ini akan mencapai Rp 30 triliun atau lebih tinggi 25% dari proyeksi awal 2022 senilai Rp 24 triliun.

Artinya, total efisiensi biaya operasional yang dapat dihemat oleh BUJT jika menggunakan multi lane free-flow (MLFF) tahun ini mencapai Rp 450 miliar. Dalam sistem MLFF, BUJT akan menggantikan tenaga kerja transaksi dengan membayarkan iuran kepada pemerintah.

Namun, iuran tersebut tidak boleh dibebankan kepada pengguna jalan. Dengan kata lain, tarif jalan tol akan tetap walau sistem MLFF telah berjalan.

Setelah itu, pemerintah akan menyerahkan iuran tersebut kepada badan usaha pelaksana MLFF, yakni PT Roatex Indonesia Toll System atau RITS. Hal tersebut dilakukan mengingat proyek MLFF dilakukan oleh pemerintah, bukan BUJTT.

"Ini yang sedang kami yakinkan ke BUJT bahwa tagihan pemerintah ke BUJT itu lebih kecil dari yang mereka keluarkan untuk operasi bidang transaksi," ujar Danang.

Pemerintah akan mulai menerapkan sistem MLFF pada lima ruas pada tahap awal. Kelima ruas yang dimaksud adalah tiga ruas tol di kawasan Jabodetabek, Jalan Tol Bali Mandara, dan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda.

Danang mencatat penerapan MLFF pada seluruh jalan tol milik PT Jasa Marga akan membuat perseroan melepas 2.000 tenaga kerja. Jasa Marga memiliki dua skema untuk mengurangi tenaga kerja tersebut, yakni alih posisi atau mentransfer tenaga kerjanya ke RITS.

Selain itu, Danang sebelumnya meyakinkan margin kesalahan maksimum yang dapat dilakukan oleh RITS hanya 1%. Adapun, hal tersebut telah dituangkan dalam kontrak antara pemerintah dan RITS.

"RITS menjamin risiko itu, dia menanggung 1% dari transaksi di jalan tol. Makanya, semakin bagus teknologinya, dia bisa mengurangi margin of error itu," kata Danang, saat Ground Breaking Tol Gilimanuk-Mengwi, Sabtu (10/9).

 

 

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait