Kemenhub Akan Larang Kapal Melaut Jika Kondisi Cuaca Membahayakan

Kemenhub juga meminta operator kapal menjaga kapasitas muatan agar aman selama pelayaran.
Nadya Zahira
26 Desember 2022, 13:54
kapal, kemenhub, cuaca
ANTARA FOTO/Arnas Padda/rwa.
Calon penumpang berjalan melintasi KM Wilis yang sandar di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/12/2022).

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi bagi transportasi laut guna menghadapi hujan di sejumlah wilayah. Ini untuk merespons peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai atau KPLP Kementerian Perhubungan, Capt. Mugen S Sartoto mengatakan bahwa saat ini cuaca buruk dan gelombang tinggi terjadi di sejumlah perairan di Indonesia yang tentunya berdampak terhadap keselamatan pelayaran. Adapun periode mitigasi dimulai pada 26 Desember 2022 pukul 07.00 WIB sampai dengan 27 Desember 2022 pukul 07.00 WIB.

Oleh sebab itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengimbau kepada para Syahbandar, Operator Kapal termasuk Nakhoda Kapal serta masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan pelayaran. Seluruh pemangku kebijakan diminta mempelajari berita cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG setiap 6 jam.

"Apabila kondisi cuaca membahayakan keselamatan pelayaran maka Syahbandar diminta untuk tidak menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar atau SPB," ujar Mugen yang dikutip dalam keterangan resmi, pada Senin (26/12).

Mugen juga meminta tidak ada syahbandar yang menuruti pihak manapun untuk memaksakan kapal diberangkatkan. Kapal hanya bisa berjalan jika cuaca di sepanjang perairan benar-benar aman untuk berlayar.

Ia juga meminta kegiatan bongkar muat barang agar diawasi secara berkala agar tidak terjadi kelebihan kapasitas. Operator kapal juga diminta memantau laporan cuaca dan meminta pertimbangan syahbandar sebelum kapal berangkat.

Jika saat pelayaran mendapati cuaca buruk, segera berlindung di tempat yang aman dengan ketentuan kapal harus tetap siap digerakkan. Tak hanya itu, nakhoda kapal juga diminta untuk memeriksa kembali beban muatan, ikatan, serta bukti sertifikat keselamatan sebelum kapal diberangkatkan.

Apabila terjadi kecelakaan kapal agar segera berkoordinasi dengan syahbandar setempat dan melakukan penanggulangan tumpahan minyak di laut, serta akibat lain yang ditimbulkan termasuk penundaan.

"Kami menyiagakan kapal-kapal Patroli serta terus berkoordinasi dengan Basarnas, TNI atau Polri sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan laut," ujar Mugen

Mugen juga mengimbau kepada masyarakat khususnya calon penumpang kapal agar selalu mengikuti aturan keselamatan dan petunjuk dari petugas kapal. Penumpang juga tidak boleh memaksakan diri naik jika kapal sudah penuh sesuai kapasitasnya.

"Belilah tiket kapal secara online atau melalui loket resmi  di pelabuhan, pastikan membawa barang bawaan secukupnya dan tetap mengutamakan keselamatan pelayaran yang merupakan tanggung jawab kita bersama," kata Mugen.

Sejauh ini sudah ada beberapa rute penyeberangan antar pulau yang sempat berhenti beroperasi sementara karena cuaca buruk pekan lalu. Beberapa di antaranya adalah rute Natuna-Anambas, Lombok-Sumbawa, serta Bakauheni-Merak.

 

 

Reporter: Nadya Zahira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait