Apple Pernah Ancam Depak Facebook Karena Laporan Perdagangan Manusia

Apple ancam akan tendang Facebook dari App Store lantaran perdagangan manusia di Timur Tengah. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu lalu menghapus 700 akun Instagram dan 4.000 konten organik.
Image title
24 September 2021, 10:23
facebook, apple, app store
Anton/pexels.com
Tampilan Facebook di Smartphone

Raksasa teknologi yakni Apple pernah mengancam akan menghapus Facebook dari aplikasi App Store pada 2019. Hal tersebut lantaran adanya kabar praktik pasar gelap untuk pekerja rumah tangga yang diperlakukan seperti budak ilegal di aplikasi media sosial tersebut.

Hal tersebut terkuak dalam laporan investigasi BBC News Arabic. Mereka melaporkan sejumlah pekerja rumah tangga yang dijual lewat platform Facebook dan Instagram menjalani kehidupan perbudakan.

 

Para pekerja harus tinggal di balik pintu tertutup dan kehilangan hak-hak dasar mereka. Mereka juga tidak dapat pergi ke manapun dan berisiko dijual kepada penawar tertinggi. 

Apple menuntut Facebook untuk berbuat lebih banyak mengatasi perdagangan manusia. Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu mengaku telah melakukan tindakan proaktif dengan cara mencari pengguna yang dicurigai melanggar perdagangan manusia.

"Kami mengikuti penyelidikan yang dilaporkan BBC. Kami melakukan peninjauan proaktif terhadap platform kami," kata Facebook dikutip dari BBC, Jumat (24/9).

Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu juga telah menemukan lebih dari 300 ribu potensi pelanggaran. Facebook kemudian menghapus 700 akun Instagram dalam waktu 24 jam. Mereka juga telah menghapus lebih dari 4.000 konten organik berbahasa Arab dan inggris yang melanggar sejak Januari 2020 hingga saat ini.

Para penjual pekerja itu memanfaatkan Facebook dan Instagram dengan cara membuat postingan dan tagar menggunakan bahasa Arab. Postingan tersebut paling banyak dibagikan oleh pengguna di Arab Saudi dan Kuwait.

"Kondisi ini sama dengan perbudakan," kata para ahli dikutip dari BBC Internasional pada Kamis (23/9). Para pekerja yang rata-rata wanita itu sering dikategorikan berdasarkan ras, dan tersedia untuk dibeli dengan harga ribuan dolar Amerika Serikat (AS).

 

 

 

 

 

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait