Dikabarkan Akan Dilepas JD.com, Ini Respons JD.ID

JD.com dikabarkan tengah melepas JD.ID di Indonesia dan JD Central di Thailand. Langkah ini untuk menutup kerugian raksasa e-commerce Cina itu di Asia Tenggara.
Ameidyo Daud Nasution
3 Desember 2022, 05:00
jd.id, e-commerce, jd.com
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/rwa.
Pengunjung mempraktekkan pemanfaatan platform penjualan digital (e-commerce) JD.ID di Paris van Java Mall, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/5/2021).

JD.ID merespons kabar mereka akan dilepas oleh JD.com. Perusahaan e-commerce itu menyatakan hingga saat ini belum ada pembahasan terkait hal tersebut di tingkat manajemen.

Saat ini perusahaan masih fokus dengan program Super 8 yang dimulai sejak Agustus 2022. "Semuanya masih on the track," kata Head of Corporate Communications and Corporate Social Responsibility (CSR) JD.ID Setya Yudha Indraswara dalam pesan tertulis dalam surel kepada Katadata.co.id, Kamis (2/12).

JD.com dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menutup operasinya di Indonesia dan Thailand. Hal ini dilakukan raksasa e-commerce asal Cina tersebut untuk mengurangi kerugian di kawasan Asia Tenggara dan memperkuat operasional di dalam negeri.

Dikutip dari South China Morning Post, seorang sumber mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan menjadi tantangan JD.com di Asia Tenggara. Saat ini perusahaan sedang mencari investor untuk mencaplok bisnis mereka di Indonesia di Thailand.

Tiga orang yang dekat dengan bisnis ecommerce Indonesia mengatakan JD.com mencari investor untuk mengambil alih saham di JD.ID. Langkah yang sama juga akan dilakukan pada JD Central di Thailand.

Rencana JD.com menarik diri dari Asia Tenggara awalnya dilaporkan media Cina yakni Xiaguangshe. Seorang sumber mengatakan ekspansi perusahaan di Indonesia dan Thailand dalam delapan tahun belakangan menghabiskan biaya US$ 1,39 miliar atau setara Rp 21,8 triliun.

Langkah ini mencerminkan melambatnya pertumbuhan e-commerce di Indonesia dan Thailand. Hal ini sejalan dengan peningkatan biaya hidup dan inflasi.

Pada Mei lalu, JD.ID dikabarkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawannya. Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengatakan perusahaan saat ini fokus memperbaiki arus kas untuk mencapai margin positif.

Sedangkan JD Central telah merugi sejak diluncurkan. Kerugian JD.com dalam usaha patungan ini mencapai 1 miliar yuan atau setara rp 2,2 triliun antara 2017 hingga 2021.

Adapun kinerja mereka JD.com di Indonesia dan Thailand masih kalah oleh Shopee, Lazada, Tokopedia, Blibli, hingga Bukalapak.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait