Harga Minyak Dunia Merosot Jelang Pertemuan OPEC

Harga minyak Brent turun menjadi US$ 62,43 per barel. Sedangkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun ke US$ 55,17 per barel.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
30 November 2019, 11:16
Harga Minyak, Opec, Minyak
Pertamina
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah dunia turun beberapa hari sebelum pertemuan negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya dimulai.

Harga minyak mentah dunia merosot pada perdagangan Sabtu (30/11) WIB. Harga anjlok hanya beberapa hari sebelum pertemuan negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya dimulai tanggal 5 Desember mendatang.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak jenis Brent melemah US$ 1,44 menjadi US$ 62,43 per barel. Sedangkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun menjadi US$ 55,17 per barel.

Banyak pihak meramal dalam pertemuan tersebut OPEC dan Rusia akan sepakat memangkas produksi guna menjaga kestabilan harga minyak. Namun Presiden Lipow Oil Associates yakni Andrew Lipow beralasan jika pemangkasan tak sesuai ekspektasi, maka harga minyak akan kembali anjlok.

“Beberapa berpikir OPEC+ memangkas produksi,  saya berpikir itu tak akan terjadi,’ kata Andrew Lipow seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (30/11).

(Baca: Presiden Trump Dukung Demonstran Hong Kong, Harga Minyak Dibuka Turun)

OPEC + sebelumnya sepakat untuk mengurangi pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari pada 2019 hingga Maret 2020. Ini dilakukan untuk mengimbangi produksi minyak AS yang terus naik. Survei Reuters menunjukkan bahwa total produksi minyak OPEC telah turun 110.000 barel per hari di bulan November.

Namun pasar mulai pesimis karena Tiongkok memperingatkan AS yang meloloskan  Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong. Harga juga tertekan produksi minyak AS yang naik dari 12,3 juta menjadi 12,4 juta barel per hari September lalu.

Chief Market Strategist di FXTM Hussein Sayed sebelumnya mengatakan, keputusan AS meloloskan RUU itu tersebut membuat pasar kembali khawatir terkait negosiasi dagang kedua negara.

“Tiongkok telah menegaskan kembali ancaman pembalasannya,” kata dia.

 

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait