OPEC Siap Perpanjang Penurunan Produksi, Harga Minyak Terkerek Naik

Harga minyak jenis Brent naik ke level US$ 63,97 per barel. Harga minyak jenis West Texas Intermediate juga naik US$ 1,57 ke angka US$ 58,58 per barel.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
22 November 2019, 08:43
Harga minyak, OPEC, harga minyak naik
Katadata
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak jenis Brent pada perdagangan Jumat (22/11) naik US$ 1,57 ke level US$ 63,97 per barel. Sedangka harga minyak jenis West Texas Intermediate juga naik US$ 1,57 ke angka US$ 58,58 per barel.

Harga minyak pada perdagangan Kamis (Jumat 22/11 WIB) naik lebih dari 2% menyusul laporan kemungkinan negara-negara penghasil minyak (OPEC) dan sekutunya memperpanjang penurunan produksi hingga pertengahan tahun depan.

Dilansir dari Reuters, harga minyak jenis Brent naik US$ 1,57 ke level US$ 63,97 per barel. Sedangka harga minyak jenis West Texas Intermediate juga naik US$ 1,57 ke angka US$ 58,58 per barel.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya dan OPEC punya tujuan bersama untuk menjaga harga seimbang. Pasar memprediksi ini merupakan kesepakatan untuk mengurangi pasokan minyak. OPEC dan sekutunya termasuk Rusia akan menggelar pertemuan tanggal 5 Desember mendatang di Wina, Austria.

“Banyak faktor diperhitungkan, pertemuan OPEC yang akan datang jadi fokus,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow dikutip dari Antara, Jumat (22/11).

(Baca: AS-Tiongkok Urung Sepakat, Harga Minyak Kembali Tersungkur )

Selain itu, faktor pendukung lainnya adalah kabar bahwa Tiongkok siap berusaha menyelesaikan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Laporan dari Wall Street Journal, pemerintah Tiongkok telah mengundang negosiator perdagangan utama AS.

Namun kekhawatiran tetap muncul lantaran Presiden AS Donald Trump diperkirakan menandatangani dua Rancangan Undang-undang untuk mendukung protes di Hong Kong. Pasar mengkhawatirkan langkah terbaru AS akan menimbulkan kemarahan Tiongkok.

“Pasar mulai gelisah, kita bisa melihat jatuhnya (gagal) pembicaraan seperti Mei lalu terulang,” kata analis pasar senior OANDA yakni Edward Moya.

(Baca: Sempat Anjlok Karena Pasokan Berlebih, Harga Minyak Naik Tipis)

Dalam laporan South China Morning Post menyebut AS dapart menunda tarif impor dari Tiongkok jika kesepakatan tak tercapai 15 Desember mendatang.

Reporter: Antara

Video Pilihan

Artikel Terkait