AS-Tiongkok Urung Sepakat, Harga Minyak Kembali Tersungkur

harga minyak jenis Brent turun ke US$ 62,13 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate juga turun ke US$ 56,79 per barel.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
21 November 2019, 09:57
Harga minyak, AS Tiongkok, perang dagang.
KATADATA
Kilang Minyak. Harga minyak mentah dunia kembali susut pada perdagangan Kamis (21/11) WIB. Harga jatuh setelah beredar kabar dari sejumlah sumber di Gedung Putih bahwa kabar fase awal kesepakatan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat mungkin tak dapat dilakukan tahun ini.

Harga minyak mentah dunia kembali susut pada perdagangan Kamis (21/11) WIB. Harga jatuh setelah beredar kabar dari sejumlah sumber di Gedung Putih bahwa kabar fase awal kesepakatan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat mungkin tak dapat dilakukan tahun ini.

Mengutip Reuters, hingga berita ini ditulis harga minyak jenis Brent turun US$ 27 sen menjadi US$ 62,13 per barel setelah di sesi sebelumnya di angka US$ 62,40. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 22 sen menjadi US$ 56,79 per barel.

“Saya tidak berpikir mereka (Tiongkok) menuju arah yang saya mau,” kata Presiden AS Donald Trump dilansir dari Reuters, Kamis (21/11).

(Baca: Sempat Anjlok Karena Pasokan Berlebih, Harga Minyak Naik Tipis)

Perang dagang yang berlangsung selama 16 bulan antara dua negara tersebut telah meningkatkan kekhawatiran tentang dampak terhadap permintaan minyak. Selain itu, sebelumnya harga minyak juga terpukul naiknya perkiraan produksi minyak Norwegia dan AS.

Energy Information Administration mengatakan stok minyak mentah AS tumbuh sebesar 1,4 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi analis sebesar 1,5 juta barel. Kemudian, data American Petroleum Institute menunjukan persediaan minyak mentah naik 6 juta barel pada 15 November menjadi 445,9 juta.

(Baca: AS-Tiongkok Siap Berunding, Harga Minyak Awal Pekan Terkerek Naik)

Harga saat perdagangan hari Rabu (20/11) sempat mengalami kenaikan 2% pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh sinyal dari Rusia yang akan melanjutkan kerja sama dengan OPEC untuk pemangkasan produksi. Tak hanya itu, meningkatnya eskalasi Iran dengan AS di Selat Hormuz juga sempat mengerek harga minyak.

“Meningkatnya tensi di Timur Tengah jadi penjelasan mengapa harga naik (kemarin),” kata Chief Commodities Analyst SEB Bjarne Schiedrop.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait