Perkasa di Akhir 2019, Rupiah Dibuka Melemah pada Awal 2020

Beberapa mata uang ASia seperti dolar Hong Kong, dolar Singapura, dan won Korea Selatan juga melemah
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
2 Januari 2020, 09:29
rupiah, rupiah melemah, nilai tukar
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Petugas menata uang Dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan perdana tahun 2020.

Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan perdana tahun 2020. Nilai tukar rupiah di pasar spot pagi ini, Kamis (2/1) terpeleset 0,09% ke level Rp 13.878 per dolar AS. Saat berita ini ditulis, mata uang garuda bahkan semakin anjlok ke level Rp 13.890 per dolar AS.

Tak hanya rupiah, beberapa mata uang Asia turut melemah terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong turun 0,02%, dolar Singapura 0,04%, dan won Korea Selatan 0,12%.

Namunmayoritas mata uang Asia justru menguat pagi ini. Dolar Taiwan naik 0,02%, peso Filipina 0,09%, rupee India 0,22%, yuan Tiongkok 0,3%, ringgit Malaysia 0,18%, dan baht Thailand 0,18%.

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Pieter Abdullah Redjalam mengungkapkan, pelemahan mata uang Garuda tak terjadi karena kondisi internal Indonesia saat ini. "Fenomena jangka pendek seperti banjir tak banyak berpengaruh," kata Pieter kepada Katadata.co.id, Kamis (2/1).

(Baca: Tutup Tahun 2019, Rupiah Menguat Tembus Level Baru 13.800 per Dolar AS)

Ia menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar lebih banyak dipengaruhi pergerakan aliran modal ke dalam negeri, terutama dalam bentuk portofolio. Pieter juga memproyeksikan rupiah akan menguat tahun ini, didukung oleh kebijakan moneter global yang cenderung melonggarkan likuiditas.

Pieter memperkirakan rupiah akan melanjutkan penguatan yang cukup panjang pada minggu lalu. Sentimen positif ini didorong kemungkinan kesepakatan AS dan Tiongkok untuk mengakhiri perang dagang.

“Delegasi Tiongkok akan ke Washington untuk menandatangani kesepakatan pertama mengakhiri perang dagang," ucap dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah menilai, penguatan rupiah yang cukup signifikan di penghujung akhir tahun 2019 di bawah Rp 13.900 per dolar AS terjadi karena kondisi faktor global yang mulai kondusif.

"Selain itu karena pengaruh musiman akhir tahun, valuasi aset finansial domestik yang tetap menarik, serta faktor teknis," ujar Nanang kepada Katadata.co.id, Rabu (1/1).

(Baca: Menguat Ke Rp 13.916, Rupiah Diprediksi Perkasa di Hari Terakhir 2019)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait