Tiga Tips Agar Mahasiswa Tak Alami Kesulitan Finansial saat Berkuliah

Investasi jadi hal penting terutama untuk mengantisipasi kebutuhan dana darurat di kala pandemi.
Ameidyo Daud Nasution
19 September 2020, 19:32
Telaah - Bank
deniskot/123rf

Mengatur keuangan kerap menjadi tantangan semua orang, termasuk mahasiswa. Oleh sebab itu Presiden Direktur Manulife PT Manulife Asset Management Indonesia (MAMI) menyampaikan tiga langkah yang diperlukan agar mereka tak mengalami kesulitan finansial.

Hal ini disampaikan Afifa saat kelas edukasi MAMI kepada 100 mahasiswa dari 24 perguruan tinggi di Indonesia, Sabtu (19/9). Dia mengatakan langkah mudah yang bisa dicoba adalah menerapkan insaf, irit, dan investasi (3I).

“Karena banyak orang alami kesulitan, bukan anak kuliahan saja tapi yang gaji puluhan juta juga,” kata Afifa dalam webinar tersebut.

Langkah pertama adalah insaf untuk menyadari pangkal masalah finansial mulai dari uang yang masuk digunakan sampai habis,  gagal mengatur arus kas, dan tak memiliki tabungan.

“Seni mengelola tak fokus pada berapa uang yang diperoleh dari orang tua atau beasiswa tapi bagaimana mengatur keuangan,” kata Afifa.

Beberapa mahasiswa bisa saja mengambil pekerjaan demi menyeimbangkan arus kas. Afifa menganggap hal ini sah-sah saja dilakukan selama tak mengganggu tugas utama mereka yakni belajar.

“Selain itu perlu punya tujuan keuangan yang jelas, karena kebanyakan masih tidak memiliki tujuan,” katanya.

Langkah kedua adalah irit dan tidak mengikuti keinginan diri dan tekanan sekitar untuk membeli barang yang dtak iperlukan. Afifa mengatakan banyak mahasiswa yang cenderung ingin mengeluarkan uang demi hal yang sebenarnya tak menjadi kebutuhannya.

Salah satu contohnya adalah membeli telepon seluler mahal. Makanya dia mengingatkan mahasiswa agar keinginan tersebut dapat direm, apalagi bagi mereka yang memiliki pemasukan kecil. “Harus bijak menetapkan ambang batas antara kebutuhan dan keinginan,” kata dia.

Afifa mengatakan saat ini banyak model pinjaman peer to peer lending yang mudah diakses mahasiswa. Ia berharap mereka dapat bijak mengambil kredit demi keperluan produktif saja. “Kalau yang mau pakai untuk konsumtif seperti foya-foya, hitung berapa bunganya,” kata dia.

Ketiga adalah memulai investasi agar uang tabungan mahasiswa tak tidur dan tergerus inflasi.  “Saran kami paling tidak sishkan uang 10% tiap bulan untuk investasi, sisanya dipakai keperluan sehari-hari,” kata dia.

Dia mencontohkan kondisi pandemi saat ini membuktikan bahwa dana keperluan darurat hampir pasti diperlukan mahasiswa. Oleh sebab itu ia menyarankan mahasiswa mulai disiplin menyisihkan kantongnya untuk masuk dalam bentuk instrumen investasi.

“Untuk alternatif bisa di investasi biaya rendah seperti Reksa Dana Pasar Uang (RSPU),” katanya.

Namun dia menganggap kunci dari ketiga langkah itu adalah disiplin dan fokus dalam menentukan tujuan hidup. Selain itu ia berharap mahasiswa tak menganggap sepele uang nominal kecil yang bisa dikumpulkan. “Kadang kita suka anggap remeh uang Rp 500, padahal kalau dikumpulkan bisa besar,” katanya.

 

 

 

Video Pilihan

Artikel Terkait