Omicron Menyebar, IMF Bersiap Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia

IMF juga memperingatkan beberapa negara atas kemampuannya membayar utang saat pandemi
Ameidyo Daud Nasution
4 Desember 2021, 09:42
IMF, omicron, pertumbuhan ekonomi
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, sebelum pertemuan bilateral disela KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Thailand, Minggu (3/11/2019).

Semakin meluasnya penyebaran Covid-19 varian Omicron mulai mengancam perekonomian dunia. Bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan mutasi virus ini dapat memperlambat pemulihan ekonomi global.

IMF pada Oktober lalu telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 5,9% tahun ini dan 4,9% pada tahun 2022. Meski demikian, Amerika Serikat dan beberapa negara dengan perekonomian besar telah merevisi pertumbuhannya.

“Kami kemungkinan akan melihat beberapa penurunan pada proyeksi kami untuk pertumbuhan global,” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Jumat (3/12) dikutip dari Bloomberg.

 

Advertisement

Semakin lambatnya pertumbuhan ekonomi global ini lantaran adanya ketimpangan antara beberapa negara yang kemungkinan lebih cepat pulih dari pandemi. Sementara negara lainnya akan terdampak lebih lama. “Masalah baru yang sedang muncul khususnya adalah inflasi,” ujar dia.

Georgieva lalu mengungkapkan kekhawatirannya atas dampak pandemi terhadap kemampuan beberapa negara membayar utang. Dia mengatakan sekitar 60% negara termiskin dunia saat ini berisiko tinggi kesulitan keuangan.

“2022 akan jadi tahun yang sangat mendesak dalam hal berurusan dengan utang,” ujarnya.

 

Kelompok G20 pada Mei tahun lalu telah memulai inisiatif penangguhan pembayaran utang (DSSI) negara-negara termiskin dunia untuk mengatasi pandemi. Georgieva berharap inisiatif seperti ini dapat dilakukan kelompok negara-negara lainnya.

Saat ini baru tiga negara yang mengajukan penangguhan ini yakni Ethiopia, Zambia, dan Chad. Oleh sebab itu Georgieva meminta negara lain yang mengalami kesulitan bisa mengambil opsi ini.

“Pesan saya, jangan menunggu sampai terlambat. Akan lebih mahal untuk (negara) anda,” katanya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait