Pendapatan Emiten Alkes Itama Ranoraya Meroket 134% Berkat Tes Covid

Penjualan rapid test mencapai Rp 939 miliar atau 71% dari pendapatan Itama Ranoraya. Mayoritas alat tes Covid dijual ke korporasi dan ritel.
Image title
9 Februari 2022, 09:05
tes covid, alkes,
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Ilustrasi tes covid-19 di Jakarta, Selasa (2/11/2021).

Bisnis tes Covid-19 memberikan berkah bagi  perusahaan peralatan dan perlengkapan medis berteknologi tinggi, PT Itama Ranoraya Tbk. Emiten berkode IRRA itu membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 134% pada 2021.

Direktur Utama Itama Tbk Heru Firdausi Syarif mengatakan, pendapatan perseroan sepanjang 2021 mencapai Rp 1,32 triliun, melonjak dari Rp 563,9 miliar pada tahun sebelumnya.  Angka tersebut melampaui target pertumbuhan yang ditetapkan perseroan yaitu 80%-100%. 

Adapun, kontribusi terbesar disumbang penjualan untuk segmen non pemerintah sebesar Rp 663,8 miliar. Sedangkan, penjualan untuk segmen pemerintah tumbuh sebesar Rp 655,1 miliar. 

"Porsi penjualan non pemerintah menjadi paling besar yaitu 50,3%, padahal di tahun 2020 masih hanya sebesar 34% dan tahun 2019 dibawah 30%," kata Heru dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (9/2).

Advertisement

 

Berdasarkan produk, penjualan rapid test Covid di sepanjang tahun 2021 menyumbang 71% terhadap total pendapatan atau mencapai Rp 939 miliar. Sebanyak 51% penjualan rapid test Covid berasal dari penjualan untuk korporasi dan ritel, sisanya sebesar 49% berasal dari pemerintah.

Sementara itu porsi penjualan produk Auto Disable Syringe (ADS) Oneject mencapai 11%, Abbott Reagent sebesar 10%, Mesin Aphresis (Blood & Cell Therapy) sebesar 3%.

Pada 2021, perseroan juga menambah jaringan distribusi menjadi 123 sub distributor atau bertambah 111 sub distributor. Hal itu membuat jumlah pelanggan meningkat signifikan sebesar 140% menjadi 1.137 customer pelanggan.

Selain ekspansi jaringan, perseroan juga terus menambah portofolio produknya. Di tahun 2021, IRRA memiliki produk baru seperti imunomodulator Avimac, alat penyimpan vaksin yang telah memiliki standar organisasi kesehatan dunia (WHO) milik Vestfrost, serta produk BD Bard milik Becton Dickinson yang merupakan balon untuk mendeteksi penyumbatan darah.

Selain itu, mereka juga membeli produk Rapid test non-Covid seperti HIV, sifilis, HBsag, HCV, hepatitis, demam berdarah dengue (DBD), salmonela, malaria dan penyakit menular lainnya. 

Direktur Pemasaran Itama Hendry Herman menjelaskan, dari beberapa produk baru perseroan tahun lalu, produk rapid test non Covid merupakan produk baru yang paling tinggi penjualannya.

“Dengan realisasi angka penjualan lima juta unit di enam bulan pertama, kami yakin dapat menjadi penopang laju pertumbuhan perseroan di segmen produk diagnostic in vitro ke depannya," kata Hendry.

Di tahun ini, perseroan akan semakin fokus untuk segmen non pemerintah yang masih memiliki pasar sangat besar untuk produk alat kesehatan. Beberapa di antaranya korporasi termasuk rumah sakit, laboratorium, klinik swasta, dan ritel.

IRRA optimistis akan terus menambah produk-produk dari prinsipal terkemuka, serta ekspansi jaringan distribusi. Dengan transformasi bisnis ke depan, perseroan juga akan memperkuat layanan dan distribusi.

 

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait