Perlu Strategi Perang Semesta dalam Penanganan Covid-19

IDI meminta pemerintah memodifikasi strategi dalam menangani virus corona. Hal ini demi mengurangi potensi kematian dokter karena terinfeksi penyakit tersebut.
Ameidyo Daud Nasution
13 September 2020, 10:00
Ketua Umum PB IDI dr Daeng M Faqih.
Katadata
Ketua Umum PB IDI daeng M. Faqih.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Apakah ini lantaran ada potensi penularan tinggi di tingkat akar rumput ?

Saya melihat pemahaman tentang Covid-19  di masyarakat, kalau lihat berita di TV sampai ada penolakan jenazah, kemudian kawan-kawan di kampung tidak paham dengan bahasa yang dikeluarkan pemerintah dan petugas kesehatan. Ini menunjukkan tingkat pemahaman kurang, harus digerakkan pemahamannya dengan bahasa mereka, oleh pimpinan mereka sendiri pada tingkat paling bawah. Kalau misalnya NU bergerak sampai ke kyai atau pengajian di kampung dengan bahasa mereka, masyarakat di situ kemungkinan besar lebih taat ke ulama kampungnya, daripada ke dokter. Komunitas masyarakat yang ditaati adalah pemimpin mereka. Saya meskipun ketua IDI, belum tentu ditaati mereka. Ini belum digerakkan secara maksimal oleh pemerintah.

Ini berarti keterlibatan masyarakat jadi kunci dalam penanganan Covid-19 ?

Karena seluruh orang berpotensi tertular, sehingga peperangan dengan Covid-19 adalah perlawanan semesta. Kalau semesta tidak hanya TNI, tapi seluruh komponen masyarakat kita ajak untuk berjuang. Kalau itu dilakukan untuk 3M, maka langkah strategisnya akan efektif dan berjalan baik.

Apa lagi tantangan lain untuk menyadarkan masyarakat soal bahaya Covid-19 ?

Harus mulai didorong dan disadarkan harapan tentang vaksin. Masyarakat apriori ke vaksin dengan mengatakan tak bermanfaat, berisiko, macam-macam. Ini pemahaman salah karena harapannya, Covid-19 akan berhenti kalau vaksin atau obat ditemukan.

IDI melihat progres vaksin dan obat sudah sampai mana ?

Sekarang belum ditemukan obat dan saya belum dengar tanda-tanda upaya penemuan obat spesifik pembunuh Covid. Yang ada tanda-tanda lewat uji klinis vaksin sehingga menjadi harapan kita. Banyak masyarakat tidak paham, selalu curiga dan negatif mengatakan vaksin ini hanya akal-akalan bisnis, kemudian menyatakan tidak aman, berbahaya. Padahal urutan supaya dikatakan aman dan berkhasiat itu pakai metode penelitian yang baik sehingga harus lalui rentetan uji klinis.

IDI optimis vaksin akan didistribusikan akhir tahun ini?

Beritanya memang dari pemerintah, uji klinis sampai awal 2021. Bila menunjukkan hasil aman dan berkhasiat maka harus cepat diproduksi. Mudah-mudahan misal Januari 2021 berhasil dipastikan aman dan berkhasiat sehingga satu atau dua bulan setelah itu bisa diproduksi dan kita bisa memberi vaksinasi ke masyarakat Indonesia. Tapi paling tidak 3T dan 3M dulu kalau sebelum ada vaksin yang perlu digenjot.

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan menerapkan PSBB total lagi. Seberapa efektif mengurangi angka penularan Covid ?

Sebenarnya apapun kebijakannya, intinya di 3M. PSBB itu pendisiplinan 3M yang bisa memutus rantai penularan. Karena 3T itu strategi memadamkan dan menghalau akibat karena sudah sakit. Kalau sama-sama dilakukan dengan baik, maka yang sakit sama yang sehat tidak bertemu dan terjadi penularan. Sehingga virusnya akan habis dengan sendirinya. Oleh karena itu, paling penting di persoalan kita mengupayakan strategi 3M. Apapun kebijakannya.

Salah satu alasan Anies menerapkan PSBB total adalah kapasitas rumah sakit terancam. Apakah IDI melihat risiko serupa ?

Jadi ini kan ancaman over capacity karena penularan terus terjadi dan tambah banyak. Siapa yang terancam dengan seperti itu? Ya semua petugas kesehatan karena beban pelayanan akan semakin besar. Nanti faktor kelelahan, kekurangan tenaga akan terjadi dan akan lebih mudah terkena infeksi. Kedua ya masyarakat, masyarakat yang sakit bisa tak dapat tempat. Sehingga yang dilakukan dua hal, pertama kapasitas, ruangan, alat, dan obat ditambah.

 

Pemerintah sudah menambah fasilitas hingga obat-obatan ?

Pemerintah menyediakan dana untuk itu, disampaikan Pak (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto dan (Menteri BUMN) Erick Thohir. Tinggal sekarang pelaksanaan di lapangan untuk menambah kapasitas. Kalau di rumah sakit ruangannya sudah terisi semua mungkin akan ditambah lagi. Karena RS yang menangani Covid itu masih 60%, masih sisa 40%. Sedangkan langkah yang dilakukan bersama-sama ya sumber penularan ditekan dengan 3T dan 3M.

Apakah bisa menambah fasilitas kesehatan dalam waktu cepat?

Harus, jangan ditanya mungkin dan tidak mungkin karena dari pemetaan masih ada 40% RS yang belum diminta untuk tangani. Ruangan, tenaga, dan alatnya sudah ada. Memang  karena belum pernah menangani mungkin masih ada kurang-kurangnya akan dibantu. Itu yang dikatakan Pak Erick dan Pak Airlangga sudah menyiapkan dana untuk itu.

Hasil pemetaan sudah disampaikan ke IDI ?

Saya secara detail tidak paham karena detail ada di Kemenkes dan Dinkes provinsi masing-masing. Tapi saya dengar (kapasitas) RS Wisma Atlet (Kemayoran) mau ditambah. Pemerintah juga mau memanfaatkan hotel atau gedung kosong untuk isolasi kasus ringan atau OTG. Kemudian akan menambah kapasitas RS dan ICU untuk kasus berat.

Dukungan dana atau insentif pemerintah kepada dokter dan tenaga kesehatan dari pemerintah apakah masih bermasalah ? 

Kami sebenarnya rutin koordinasi dengan Badan Pemberdayaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Kesehatan. Memang kendalanya hanya administrasi, bila secara administratif lengkap langsung dicairkan dan bergulir terus baik sebagai insentif santunan. Mungkin kalau dikatakan ada masalah hanya dalam proses verifikasi administrasi. Jadi relatif tidak ada masalah.

Reporter: Tim Redaksi Katadata

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait