AstraZeneca Paling Laku

Meski banyak negara mengawali vaksinasi dengan vaksin Pfizer, namun AZD1222 buatan Universitas Oxford dan AstraZeneca adalah yang paling laku. Dari laman launchandscalefaster.org milik Duke University, hingga 19 Januari setidaknya sudah ada 2,04 miliar dosis vaksin AstraZeneca yang telah dipesan.

Vaksin Pfizer berada di peringkat dua dengan 1,01 miliar dosis pemesanan. Di posisi ketiga ada vaksin milik Janssen sebanyak 1 miliar yang telah dipesan.

Vaksin yang dikembangkan Sanofi-GSK berada di peringkat berikutnya dengan 732 juta pemesanan. Di bawahnya ada serum antivirus yang dibuat Moderna yakni 500,5 juta dosis.

Di bawahnya ada NVX-CoV2373 buatan Novavax yang telah dipesan sebanyak 387,7 juta. Adapun vaksin Sinovac ada di peringkat tujuh dengan 385,8 juta dosis.

Berdasarkan negara, Amerika Serikat merupakan pemborong terbesar vaksin AstraZeneca sebanyak 500 juta dosis. Negeri Paman Sam juga merupakan pembeli terbesar vaksin Moderna dan Novavax yakni 200 juta dan 110 juta dosis.

Sedangkan Uni Eropa memesan vaksin Pfizer dengan jumlah terbanyak yakni 300 juta dosis. Mereka juga memborong vaksin Sanofi-GSK sebesar 300 juta. 

Adapun Covax/GAVI menjadi pemesan terbesar antivirus bikinan Janssen dengan jumlah 500 juta dosis. Terakhir, Indonesia yang menjadi konsumen vaksin Sinovac terbesar yakni 125 juta dosis.

VAKSINASI DI RS KHUSUS COVID-19
VAKSINASI DI RS KHUSUS COVID-19 (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.)

 

Meski demikian, Pemerintah juga tak menjadikan Sinovac sebagai satu-satunya andalan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan RI telah mengamankan pasokan 150 juta dosis vaksin Pfizer, Novavax, dan AstraZeneca.

Pemerintah juga akan mendapatkan 54 juta dosis vaksin dari Covax/Gavi. Jika ditotal, jumlah vaksin yang didapatkan Indonesia mencapai 329,5 juta juta dosis secara firm order.

 Tak hanya itu, RI juga akan mendapatkan opsi tambahan dari lima produsen tersebut dengan total 334 juta dosis. Dari angka tersebut, Sinovac memiliki opsi penambahan terbesar yakni 100 juta dosis.

Budi Gunadi mengatakan Indonesia minimal memerlukan pasokan 426 juta vaksin untuk disuntikkan kepada 181 juta atau 70% penduduk. Target ini disasar demi menciptakan kekebalan komunal (herd immunity).

Kemenkes telah menargetkan 29,5 juta dosis vaksin telah terkirim pada kuartal I 2021. Pada kuartal kedua, 55,1 juta vaksin akan didistribusikan. Sebanyak 117 juta akan dikirim pada triwulan tiga.

Distribusi terbesar akan terjadi pada tiga bulan terakhir 2021 yakni 127,8 juta dosis. Sedangkan Kemenkes menargetkan vaksinasi rampung kuartal I 2022 dengan pengiriman 97,2 juta. 

Menunggu Vaksin Merah Putih

Meski demikian, tak semua pihak memandang vaksinasi yang dilakukan pemerintah dengan optimis. Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono lebih memilih perkembangan vaksin Merah Putih.

Salah satu yang menjadi sorotan Tri Yunis adalah efikasi vaksin Sinovac yang hanya 65%. Ia berharap, vaksin Merah Putih yang dikembangkan dari genetika virus dapat menjadi jalan keluar utama vaksinasi ratusan juta warga RI.

“Jadi jika 2022 vaksin Merah Putih sudah bisa diproduksi pasti kasusnya akan menurun banyak.” Kata Tri Yunis dalam sebuah wawancara pekan lalu.

Vaksin ini dikembangkan sejumlah institusi mulai dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga sejumlah perguruan tinggi. Sedangkan tim dari Universitas Indonesia mengatakan pengembangan vaksin Merah Putih dengan platform DNA tengah memasuki tahap stabilitas dan efisiensi produksi.

Total, ada delapan tahap dalam pengembangan vaksin yaitu perancangan dan konstruksi DNA rekombinan, ekspresi RNA/antigen, imunitas pada hewan coba, stabilitas dan efisiensi produksi, uji pre-klinik, uji klinik tahap I, uji klinik tahap II, dan uji klinik tahap III.

"Saat ini kami masuk pada stabilitas dan efisiensi produksi. Jadi bagaimana membuat produksi lebih tinggi dan efisien," kata Peneliti Utama Tim Pengembangan Vaksin Covid-19 UI, Budiman Bela.

Sedangkan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan LBM Eijkman merupakan instansi yang kemungkinan paling cepat mengembangkan bibit vaksin Merah Putih. 

 "Diperkirakan bisa menghasilkan bibit vaksin dan menyerahkannya ke PT Bio Farma Maret 2021," kata Bambang, Senin (18/1) dikutip dari Antara.

Reporter: Rizky Alika

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.