Tari tradisional Tifa merupakan salah satu kesenian yang berkembang di daerah Papua dan Maluku. Tari Tifa bahkan muncul dalam pecahan uang Rp 1.000 yang baru dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Menariknya, Tari Tifa adalah tarian yang sudah dikenal sejak zaman batu, zaman berburu dan meramu.
Dilansir dari laman Kemdikbud.go.id, nama Tari Tifa merujuk pada alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini. Tari Tifa biasanya diiringi oleh ketukan yang dihasilkan alat musik tifa. Keunikan Tari Tifa terletak pada gerak kaki yang ritmis dan selaras dengan ketukan alat musik tifa.
Ketukan kaki dan tepukan tifa memiliki isyarat dan simbol khusus. Sama seperti tari-tari khas Nusantara, Tari Tifa juga menjadi simbol kebersamaan yang dirayakan dalam bentuk bunyi dan gerak. Di tanah papua Tari Tifa menjadi salah satu tarian yang sakral.
Pada zaman batu, Tari ini digelar untuk penyambutan tamu, panen atau hasil buruan. Bahkan Tari tifa tak sekadar wahana mengekspresikan diri lewat musik dan sebagai simbol komunitas. Lebih dari itu Tari Tifa memberikan nilai spiritualitas kepada suku-suku Papua dan Maluku.
Ketukan kaki yang berpadu dengan tepukan Tifa memiliki unsur kegembiraan, keramahan, serta tekad yang bulat. Gerakannya yang ceria dan meriah membuat tarian ini kerap digunakan untuk penyambutan tamu sebagai tanda menerima sang tamu dengan gembira. Tari Tifa menggunakan pola lantai horizontal, vertikal, zig-zag, melingkar, dan diagonal.
Namun dalam perkembangannya Tari Tifa juga dikreasikan dan menjadi lebih beragam. Ciri khas Tari Tifa ada pada gerak lincah kaki penarinya yang mampu membuat penonton berdecak kagum. Jika tari tradisional yang menggambarkan kegembiraan biasanya dibawakan dengan berkelompok, begitu pula dengan tari tradisional yang satu ini.
Tari Tifa juga dibawakan secara berkelompok atau beramai-ramai. Secara umum gerakan Tari Tifa sama seperti tarian lain yang berkembang di Papua, sehingga gerakannya cukup sederhana dan mudah untuk ditarikan secara massal. Para penari Tari Tifa menggunakan busana tradisional khas Papua, yakni rok rumbai, sali, yokai, atau baju kain.
Selain itu, ada juga coretan-coretan yang khas di badan para penari laki-laki dan di muka penari perempuan. Alat musik tifa yang menjadi bagian tarian tradisional ini juga tidak kalah khas dan unik. Tifa memiliki bentuk tabung menyerupai gendang dengan ukuran yang panjang.
Mengutip buku berjudul Ensiklopedia Alat Musik Tradisional oleh Toto Sugiarto, dkk, ada berbagai macam jenis tifa, yaitu tifa jekir, tifa potong, tifa dasar, dan tifa bas. Meskipun memiliki nama yang sama, tifa yang berasal dari Maluku dengan tifa yang berasal dari Papua memiliki beberapa perbedaan pada bentuknya. Bagian tengah tifa yang berasal dari Papua dibuat lebih melengkung.
Sedangkan, tifa Papua juga memiliki pegangan di salah satu sisinya. Tidak hanya itu, tifa tersebut umumnya memiliki bentuk yang panjang dan tidak melebar. Tifa Papua memiliki ukiran hiasan etnik sebagai ciri khasnya.
Sedangkan tifa dari Maluku memiliki bentuk tabung dan tidak memiliki pegangan serta polos tanpa ukiran. Cara memainkan tifa adalah dengan dipukul. Kemudian alat musik tersebut akan mengeluarkan suara ritmis dan suara ketipung yang nyaring.
Alat musik tifa dibuat dari batang kayu yang dilubangi bagian tengahnya. Satu sisi tifa yang lebih lebar ditutup dengan kulit rusa, bagian kulit ini yang nantinya akan menghasilkan sebuah suara. Kulit rusa tersebut dikeringkan dan dipasangkan di salah satu sisi batang kayu.
Kulit rusa ini akan menghasilkan suara yang indah ketika dipukul. Tifa juga menggunakan kulit binatang sebagai membran yang dililit melingkar dengan rotan agar kencang.