Susah Dapat Rig, Realisasi Investasi Pertamina Hingga Mei US$ 97 Juta

Katadata
Ilustrasi, rig migas lepas pantai. Pertamina Hulu Energi (PHE) mengubah rencana investasi dari pengeboran sumur menjadi program mekanisme reparasi sumur atau Kerja Ulang Pindah Lapisan (KUPL) untuk mencapai realisasi investasi sebesar US$ 445 juta di akhir 2019.
11/7/2019, 16.56 WIB

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat realisasi investasi dari Januari hingga Mei 2019 baru mencapai US$ 97 juta. Padahal perusahaan memproyeksi investasi hingga Mei 2019 bisa mencapai US$ 143 juta. Capaian tersebut pun hanya mencapai 21,8% dari target investasi sepanjang 2019 sebesar US$ 445 juta. 

Direktur Utama PHE Meidawati menuturkan, ada beberapa kendala yang dihadapi perusahaan untuk mencapai target investasi tahun ini. Salah satunya adalah ketersediaan rig untuk melakukan pengeboran. “Banyak pengeboran-pengeboran kami yang belum terlaksana karena ketersediaan rig,” kata Meidawati saat dihubungi Katadata.co.id, Kamis (11/7).

Kondisi ini membuat PHE mengubah rencana investasi dari pengeboran sumur menjadi program mekanisme reparasi sumur atau kerja ulang pindah lapisan (KUPL). Dengan begitu target investasi sebesar US$ 445 juta bisa tercapai di akhir tahun ini. 

Hingga Mei 2019, PHE berhasil merampungkan pengeboran 17 sumur pengembangan (development) sesuai target periode Januari -Mei 2019. Untuk pengeboran sumur eksplorasi, PHE baru menyelesaikan satu sumur dari target lima sumur dalam periode yang sama.

(Baca: Pertamina Target Pengeboran Sumur Naik Dua Kali Tahun Ini)

Dari kinerja keuangan, pendapatan PHE hingga Mei 2019 sebesar US$ 1,114 miliar atau lebih tinggi 3,4% dari target Januari - Mei 2019 senilai US$ 1,077 miliar. Sedangkan laba bersih mencapai US$ 293 juta atau lebih tinggi 15% dari target hingga Mei 2019 sebesar US$ 255 juta.

Raihan laba bersih didapat dari kinerja produksi migas yang cukup positif. Realiasi produksi minyak PHE hingga Mei 2019 sebesar 80,5 ribu barel per hari (BOPD) dari target produksi minyak Januari-Mei sebesar 79 ribu BOPD. Realisasi produksi gas hingga Mei 2019 sebesar 830 MMscfd, lebih tinggi dari target periode yang sama sebesar 787 MMscfd.

Di sisi lain, PHE juga baru saja resmi mengambil alih 100% pengelolaan wilayah kerja (WK) Raja/Pendopo. Semula, blok migas tersebut dioperasikan oleh joint operating body (JOB) Pertamina dan Golden Spike Indonesia Ltd. Pengelolaan blok tersebut akan diserahkan pada anak usaha PHE Raja Tempirai.

(Baca: Pertamina akan Genjot Produksi Blok ONWJ untuk Kebutuhan Domestik)