Jual Tambang Dairi ke Tiongkok, Anak Usaha Bakrie Raup Rp 2,9 Triliun

www.bumiresources.com
ilustrasi.
24/9/2018, 21.22 WIB

PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) resmi bermitra dengan NFC China untuk mengembangkan proyek penambangan seng dan timah hitam di Dairi, Sumatera Utara. Kerja sama ini terjadi setelah perusahaan asal Tiongkok itu, membeli 51% saham BRMS di PT Dairi Prima Mineral.

NFC China membeli 51% saham BRMS di Dairi Prima Mineral dengan nilai US$ 198 juta atau Rp 2,9 triliun. "Hasil divestasi akan digunakan untuk mengurangi beban dalam neraca keuangan perusahaan," ujar Direktur & CFO BRMS Fuad Helmy, Senin (24/9).

Dari dana itu, sekitar US$ 100 juta digunakan untuk membayar lunas utang di Credit Suisse. Adapun utang anak usaha Grup Bakrie itu hanya US$ 90 juta.

Kemudian sekitar US$ 22 juta akan dibayar untuk mencicil pembelian saham PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Sebelumnya, Antam memiliki saham di PT Dairi Prima Mineral sebesar 20%. Namun, seluruhnya dijual ke BRMS dengan nilai US$ 57 juta.

Dalam perjanjiannya, nilai US$ 57 juta dibayar bertahap. Tahap pertama sebesar US$ 22 juta dibayarkan setelah transfer dari NFC China dilakukan. Sisanya dibayarkan setelah wilayah kerja Dairi berproduksi yang ditargetkan semester II tahun 2020.

Target volume produksi dari Dairi Prima Mineral, baik tambang seng dan timah hitam, adalah 600 ribu hingga  1 juta ton bijih per tahun. Ini diperoleh dari lokasi tambang Anjing Hitam. Untuk itu, BRMS mengalokasikan dana sekitar US$ 35 juta untuk pembangunan di Dairi.

Sisa dari dana itu akan digunakan untuk tambang di Gorontalo dan Palu. Tambang di Palu ditargetkan berproduksi semester II tahun 2020 juta. Target produksi dari Citra Palu Minerals, tambang emas, adalah 600 ribu ton bijih per tahun dari lokasi tambang Poboya River reef.

Setelah pembayaran pinjaman, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BRMS Muhammad Sulthon berharap likuiditas perusahaan meningkat signifikan. “Kemitraan dengan NFC diharapkan dapat dipercepat produksi pertama dari DPM dan juga untuk mendapatkan akses ke sumber dana murah di Tiongkok,” ujar dia.

Direktur & COO BRMS Suseno Kramadibrata berharap dengan kemitraan itu, bisa membuat DPM beroperasi tepat waktu yakni 2020. Kemudian juga proyek emas di Palu yang dengan kepemilikan 96%. Lalu 80% proyek tembaga di Gorontalo. “Kedua proyek berada di Sulawesi, dan proyek Palu diharapkan memulai produksi komersial pada akhir 2020,” kata dia.