Kemenkeu Soroti Investasi Migas yang Terus Merosot Sejak 2014

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/hp.
Sebuah kapal berlabuh di sekitar stasiun terapung suplai minyak dan gas lepas pantai di perairan Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (11/11/2020).
Editor: Yuliawati
10/6/2021, 16.01 WIB

Investasi sektor hulu migas RI dari tahun ke tahun terus merosot. Kementerian Keuangan mencatat investasi migas pada 2014 senilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp Rp 280 triliun, tapi anjlok separuhnya pada 2020 menjadi US$ 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata menyatakan investasi hulu migas saat ini masih terbatas. Untuk itu, perlu strategi untuk mendorong investor bereksplorasi di Indonesia. "Kita harus mencari cara untuk bisa mengundang eksplorasi lebih banyak dalam memanfaatkan cadangan yang masih banyak di Indonesia," ujar Isa dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII, Kamis (10/6).

Isa berharap kondisi ini otoritas sektor hulu migas segera memperbaiki situasi untuk mendatangkan mitra baru maupun lama guna meningkatkan investasinya di Indonesia. Isa menilai cekungan yang saat ini beroperasi masuk dalam kategori mature. Sehingga peningkatan produksi tak dapat diharapkan meningkat secara signifikan.

Industri hulu migas saat ini memang masih dalam tekanan berat. Kinerja lapangan tua terus mengalami penurunan. Tanpa eksplorasi baru, produksinya pun pasti akan turun.

Pandemi Covid-19 memperburuk situasi yang membuat banyak perusahaan energi internasional mengerem belanja modalnya. Bukan hanya di Indonesia, investasi migas secara global tahun lalu turun 30%.

Data SKK Migas menunjukkan investasi sektor migas di Indonesia pada 2020 turun 20% dibanding 2019. Namun, banyak proyek besar yang masih terhambat pengerjaannya.

Sektor migas ini mengalami penurunan juga karena persaingan ketat dengan sektor energi baru terbarukan atau EBT. Beberapa perusahaan migas dunia seperti BP, Shell, dan Total sudah menyatakan komitmennya untuk melakukan transisi tersebut dari energi fosil.

Berdasarkan catatan SKK Migas realisasi investasi hingga Januari 2021 telah mencapai US$ 873,2 juta atau Rp 12 triliun. Angka ini 7,05% dari target US$ 12,38 miliar atau Rp 173,32 triliun. Capaian realisasi investasi ini lebih baik dibandingkan perolehan pada periode yang sama 2020 yang sebesar US$ 767,5 juta atau Rp 10,73 triliun, 5,55% dari target.



Realisasi investasi sepanjang Januari 2021 digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi, antara lain yang dilakukan oleh Pertamina EP, Pertamina Hulu Mahakam, ENI East Sepinggan, Pertamina Hulu Kalimantan Timur dan PHE OSES.

Investasi juga digunakan untuk membiayai kegiatan pengembangan, utamanya untuk membiayai kegiatan pemboran sumur pengembangan seperti yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Sanga-Sanga, PHE ONWJ, ENI East Sepinggan, Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina EP, Petronas Carigali Ketapang II, Exxon Mobile Cepu Ltd dan BP Tanguh.

Reporter: Verda Nano Setiawan