Eni Tawarkan Blok Migas Krueng Mane ke Harbour Energy, Ini Alasanya

Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi blok migas.
22/7/2022, 16.10 WIB

Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Italia, Eni, dikabarkan menawarkan Wilayah Kerja (WK) migas Blok Krueng Mane kepada perusahaan migas asal Skotlandia, Harbour Energy.

Harbour Energy merupakan operator Blok Andaman II yang sebelumnya sukses menemukan cadangan migas prospektif di sumur eksplorasi Timpan-1 yang terletak 150 kilometer (km) lepas pantai Aceh.

Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad Kemal, menjelaskan penawaran Blok Krueng Mane Aceh dilatarbelakangi oleh kebijakan Eni yang mengubah portofolio perusahaan.

"Saat ini Eni dan Harbour masih berproses. Eni kemungkinan lebih fokus di WK migas di daerah Kalimantan Timur, sedangkan Harbour memang aktif di daerah offshore Aceh. Semoga dalam waktu dekat sudah ada kesepakatan yang bisa diumumkan," kata Kemal kepada Katadata.co.id, Jumat (22/10).

Kemal menjelaskan, Eni punya beberapa WK di Kalimantan Timur seperti Lapangan Jangkrik di WK Muara Baru dan lapangan East Sepinggan di WK Merakes. Eni juga dilaporkan akan mengembangkan lapangan migas lainnya seperti di Lapangan Maha di WK West Ganal.

Adapun Harbour Energy Company merupakan operator Blok Andaman II yang sebelumnya sukses menemukan cadangan migas prospektif di sumur eksplorasi Timpan-1 yang terletak 150 kilometer lepas pantai Aceh.

Kemal mengatakan sejumlah perusahaan migas internasional mulai berminat untuk kembali berinvestasi di Indonesia pasca adanya penemuan sumber gas di Blok Andaman II. Guna mengoptimalkan eksplorasi di lepas pantai utara Aceh tersebut, SKK Migas akan mendorong proses alih kelola Blok Krueng Mane bisa terealisasi.

"Di daerah sana (Aceh) operatornya ada Mubadala, Harbour Premier dan Repsol, tapi shareholder-nya ada Petronas dan BP," jelas Kemal.

Sebelumnya diberitakan, Menteri ESDM, Arifin Tasrif, mengatakan beberapa perusahaan minyak dan gas (migas) internasional kini kembali menyampaikan keinginannya untuk berinvestasi di sejumlah lapangan migas di Indonesia. Hal tersebut terjadi usai ditemukannya potensi gas di Blok Andaman pada pekan lalu.

"Potensi temuan baru (gas di Andaman) ini menyebabkan beberapa perusahaan migas internasional besar yang dulu hengkang sekarang mulai mendekat lagi," kata Arifin saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM pada Rabu (20/7).

Arifin menduga, langkah para perusahaan migas internasional tersebut disebabkan karena menipisnya pasokan energi global akibat konflik antara Rusia dan Ukraina. "Otomatis memang harus dicari sumber baru yang bisa merespon kekurangan (energi) itu dan mengamankan suplai jangka panjang," katanya.

Dia menyampaikan bahwa kembalinya minat sejumlah perusahaan migas kelas kakap tersebut juga merupakan hasil buah kerja pemerintah yang aktif menawarkan potensi temuan sumber daya migas. “Sekarang hasil dari roadshow ini sudah ada respon, tinggal kita bagaimana menyambutnya,” ujar Arifin

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Tutuka Ariadji, menyatakan potensi sumber daya gas bumi di Blok Andaman Aceh berada di kisaran 6 triliun kaki kubik (TFC) dari masing-masing tiga blok yang dikembangkan.

Tiga blok tersebut yakni Andaman I yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Mubadala Petroleum, Andaman II oleh KKKS Premier Oil, dan Andaman III yang saat ini baru akan dieksplorasi oleh KKKS Repsol Andaman B.V di Sumur Rencong-1X.

Letaknya berada di dasar laut sedalam 1,100 meter di Perairan Selat Malaka. “Kalau dikumpulkan ketiga-tiganya bisa lebih besar dari Masela. Menyebarnya ke Thailand. Mungkin bisa jadi penemuan terbesar di dunia,” kata Tutuka saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM pada Rabu (20/7).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu