Hasil studi Institut Potsdam bersama Bank Sentral Eropa menunjukkan bahwa pemanasan global dan kenaikan suhu bumi akan mendorong harga makanan jauh lebih tinggi. Mereka memprediksi harga pangan di seluruh dunia naik hingga 3,2% setiap tahunnya.
“Pada tahun 2035, suhu yang lebih tinggi saja akan mendorong harga pangan di seluruh dunia antara 0,9% dan 3,2% setiap tahun. Ini akan menambah antara 0,3% dan 1,2% dari inflasi secara keseluruhan,” tulis hasil studi Institut Potsdam dikutip dari New Scientist, Jumat (22/3).
Peneliti Institut Potsdam, Maximilian Kotz mengatakan, dirinya sempat terkejut akan dampak dari perubahan iklim global ini. Hal ini dia sampaikan saat berdiskusi dengan para ekonom ketika meneliti dampak perubahan iklim di Jerman.
Menurutnya, cuaca ekstrem yang dipicu oleh pemanasan global semakin memengaruhi produksi pangan di seluruh dunia. Apabila petani tidak beradaptasi dengan baik, maka kerugian menjadi semakin serius karena dunia iklim terus memanas.
Studi tersebut membandingkan data harga bulanan dari berbagai barang dan jasa di 121 negara antara tahun 1996 dan 2021, bersamaan dengan kondisi cuaca yang dihadapi negara-negara tersebut.
Para peneliti mencari korelasi antara harga pangan dan faktor-faktor seperti suhu rata-rata bulanan, variabilitas suhu, ukuran kekeringan dan curah hujan ekstrem. Mereka menemukan hubungan yang kuat antara suhu rata-rata dan harga makanan dalam bulan atau lebih.
New York dan Beijing Memiliki Suhu Lebih Hangat
Kotz mencotohkan wilayah utara Kota New York, Madrid dan Beijing, yang memiliki suhu lebih hangat dari rata-rata selama musim dingin. Kondisi ini menyebabkan penurunan harga makanan disana. Tetapi di saat musim panas, suhu di setiap negara rata-rata meningkatkan dan harga makanan ikut melambung.
Ia menjelaskan, bahwa faktor-faktor seperti curah hujan ekstrem memiliki dampak yang lebih kecil pada harga pangan daripada kenaikan suhu rata-rata.
Dengan begitu, hasil studi ini menghasilkan proyeksi model perubahan iklim. Dalam skenario emisi terburuk, inflasi pangan global akibat perubahan iklim diperkirakan bisa melebihi 4% per tahun pada 2060.
Namun, banyak faktor lain yang dapat berubah saat itu. Sehingga penelitian ini memproyeksinya lonjakan harga pangan melebihi 4% akan terjadi pada tahun 2035.
Kotz mengatakan, ada banyak hal yang dapat menekan dampak perubahan iklim terhadap harga pangan ini. Untuk itu, petani harus melakukan penyesuaian demi mengatasi dampak kenaikan suhu ini. Dengan begitu, tekanan inflasi juga akan berkurang. “Tapi, sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa petani dapat beradaptasi,” katanya.
Perubahan Iklim Bawa Tantangan Baru bagi Keamanan Pangan
Peneliti dari Universitas Bonn di Jerman, Matin Qaim menyebut proyeksi ini sangat realistis. “Untuk itu, kita perlu menyadari fakta bahwa perubahan iklim membawa tantangan baru yang besar untuk keamanan pangan dan nutrisi kita,” kata Matin.
Menurut Indeks Harga Pangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, biaya pangan turun secara riil antara tahun 1960 dan 2000. Akan tetapi, mulai ada peningkatan sejak saat itu.
Invasi Rusia tahun 2022 ke Ukraina juga menyebabkan lonjakan besar terhadap harga. Banyak warga di banyak negara mengajukan protes atas kenaikan harga tersebut.