Harga Minyak Turun 3% Usai Trump Tunda Pengenaan Tarif Impor
Harga minyak acuan dunia turun 3% pada penutupan perdagangan Kamis (11/4). Hal ini disebabkan oleh bergesernya fokus investor dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi perang dagang yang kian panas antara AS dan Cina.
Minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) AS turun harga 3,7% atau US$ 2,28 menjadi US$ 60,07 per barel. Sementara minyak acuan Brent turun 3,3% atau US$ 2,15 menjadi US$ 63,33 per barel.
Dua minyak acuan ini harganya sempat naik US$ 2 pada Rabu lalu, tepat setelah Trump tunda penerapan kebijakan tarif impor untuk negara lain. Namun disaat yang sama, Trump menaikkan tarif untuk Cina yang kini mencapai 145%.
Cina pun mengumumkan pungutan impor tambahan untuk barang-barang AS, memberlakukan tarif 84%. Perusahaan penasihat perdagangan Ritterbusch and Associates mengatakan tarif yang lebih tinggi untuk Cina kemungkinan akan menurunkan impor minyak mentah AS yang lebih rendah oleh Beijing. Kondisi ini mendukung memicu peningkatan pasokan dan tingkat penyimpanan AS,
Data Kopler menunjukkan, ekspor minyak mentah AS ke Cina turun menjadi 112.000 barel per hari (bph) pada Maret, hampir setengah dari 190.000 bph tahun lalu.
“Jika perselisihan perdagangan ini berlanjut lebih lama lagi, kemungkinan ekonomi global akan mengalami kerusakan ekonomi yang signifikan,” kata Co-portfolio manager Catalyst Energy Infrastructure Fund, Henry Hoffman dikutip dari Reuters, Jumat (11/4).
Data pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah AS naik 2,6 juta barel pekan lalu, hampir dua kali lipat kenaikan 1,4 juta barel yang diproyeksikan oleh para analis dalam sebuah jajak pendapat Reuters. Analis Macquarie mengatakan pada Kamis bahwa mereka memperkirakan akan ada kenaikan stok lagi pada minggu ini.
Administrasi Informasi Energi AS pada Kamis menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi globalnya dan memperingatkan bahwa tarif berpotensi sangat membebani harga minyak, karena memangkas perkiraan permintaan minyak AS dan global untuk tahun ini dan tahun depan.
"Ekspektasi penurunan permintaan yang didorong oleh tarif di tengah berlanjutnya kemungkinan resesi AS akan tetap menjadi perhatian utama para pedagang yang kemungkinan besar akan membatasi kenaikan harga dalam waktu dekat," kata Ritterbusch and Associates.