Pemerintah Susun Regulasi Implementasi Bioavtur atau SAF, Ditargetkan Mulai 2026

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/bar
Pekerja melakukan pengisian Bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke pesawat Pelita Air saat acara Special Flight Pertamina Sustainable Aviation Fuel di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (20/8/2028). Pertamina bersama dengan berbagai pihak telah berhasil mengembangkan produk Bioavtur Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang telah tersertifikasi ISCC CORSIA (International Sustainability and Carbon Certification: Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviati
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Sorta Tobing
17/10/2025, 13.44 WIB

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Edi Wibowo mengatakan pemerintah sedang menyusun regulasi terkait implementasi bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF).

Bioavtur ini merupakan bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Menurut Edi, pengembangan SAF merupakan langkah nyata dalam roadmap transisi energi nasional menuju Net Zero Emission 2060.

"Saat ini juga sedang disusun regulasi penahapan implementasi SAF, yang diusulkan dapat dimulai 2026 dengan tahap awal implementasi sebesar 1% untuk penerbangan internasional dari Jakarta (CGK) dan Denpasar (DPS)." kata Edi dalam siaran pers, dikutip Jumat (17/10).

Edi menyebut, selain regulasi pemerintah juga telah menyiapkan peta jalan implementasi SAF yang nantinya secara bertahap meningkat hingga 5% pada 2035.

“Keberhasilan implementasi ini tentu membutuhkan dukungan kuat dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, sektor swasta, industri energi, maupun maskapai,” ujarnya.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan rantai pasok dan penyediaan SAF mampu menggerakkan ekonomi sirkular masyarakat. Selain itu Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu penghasil minyak jelantah terbesar.

“SAF menjadi solusi untuk mengubah limbah sehari-hari menjadi energi berkelanjutan yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung masa depan yang lebih hijau,” ujar Mars Ega.

Pada 2024, Pertamina meraih sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU untuk Aviation Fuel Terminal di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Sertifikat ini menandai kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global serta menjadi pelopor di Asia Tenggara.

Pada 2025, Pertamina Patra Niaga juga memasok SAF berbasis minyak jelantah produksi dalam negeri dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk Pelita Air di Bandara Soekarno-Hatta, serta memperluas sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU ke Aviation Fuel Terminal di Bandara Halim Perdanakusuma.

Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Denon Prawiraatmadja menyampaikan hadirnya SAF sejalan dengan dorongan International Civil Aviation Organization (ICAO) melalui CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation). “Agar Indonesia bertransformasi dari penggunaan bahan bakar fosil menuju bahan bakar penerbangan berkelanjutan secara voluntary (sukarela) pada 2026 dan mandatory (kewajiban) mulai 2027,” ucap Denon.

Sebagai komitmen Pertamina, pada Kamis (16/10) perusahaan menyelenggarakan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) Forum 2025 bertema From Used Cooking Oil to Indonesia’s Sky: Driving the Circular Economy for a Clean Energy Transition di Jakarta.

Forum ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri energi, maskapai penerbangan, produsen pesawat, serta lembaga sertifikasi nasional dan internasional untuk mempercepat pengembangan dan implementasi SAF di Indonesia. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan Indonesia INACA dan Board of Airline Representatives-Indonesia (BARINDO).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani