Freeport Indonesia Hanya Jual 10 Ton Emas ke Antam Tahun Ini
PT Freeport Indonesia atau PTFI memprediksi penjualan emas ke PT Aneka Tambang Tbk alias Antam hanya 10 ton tahun ini. Dalam perjanjian kerja sama, perusahaan seharusnya menjual 30 ton per tahun selama 2025 – 2029.
Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan aktivitas produksi di smelter di Manyar, Gresik, Jawa Timur disetop imbas tambang Grasberg Block Cave atau GBC longsor pada awal September. Pasokan bahan baku pun diprioritaskan untuk smelter milik PT Smelting, yang hanya bisa memproduksi tembaga.
Keputusan itu sebagai bagian dari salah satu kesepakatan yang harus dipenuhi Freeport Indonesia saat menambah kepemilikan saham di PT Smelting pada 2023.
“Oleh karena itu, penjualan emas ke Antam sampai akhir tahun ini mungkin sekitar 10 ton," kata Tony di Gedung DPR, Senin (24/11). Emas ini pun merupakan hasil produksi smelter di Manyar, Jawa Timur sekitar Juli.
Operasional tambang Grasberg Block Cave atau GBC dijadwalkan kembali beroperasi penuh pada 2027. Oleh karena itu, Tony memperkirakan produksi emas Freeport Indonesia tahun depan hanya 26 ton, lalu naik menjadi 39 ton pada 2027 dan stabil sekitar 43 ton pada 2028 - 2029.
Produksi emas Freeport Indonesia akan didorong oleh pengoperasian tambang keempat, yakni Kucing Liar. Pengoperasiannya mundur dari 2028 menjadi 2029 akibat bencana longsor di tambang GBC.
"Jadi diperkirakan baru akan mulai bisa berproduksi pada 2029. Dan tentu saja dengan ini akan bisa mencapai perolehan logam yang lebih tinggi dari yang ada sekarang," ujarnya.
Tony menghitung pendapatan negara pada 2028 - 2029 dapat menembus US$ 6 miliar atau Rp 100 triliun per tahun berkat penjualan emas. Spesifik dari Freeport Indonesia US$ 4,1 miliar tahun ini dan diperkirakan US$ 2,7 miliar tahun depan.