Harga Minyak Melonjak 8% Imbas Konflik AS-Iran, Diprediksi Tembus US$100/Barel
Harga minyak acuan dunia naik 8% ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3). Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang terjadi di Timur Tengah, yang mengakibatkan kerusakan kapal tanker serta mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama.
Kontrak berjangka minyak Brent mencapai level tertinggi US$ 82,37 per barel, naik US$ 6, 47 atau 8,88% dari harga sebelumnya di US$ 79,34 per barel. Sementara itu harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 5,36 atau 8%, menjadi US$ 72,38 per barel setelah mencapai level tertinggi US$$ 75,33.
Israel kembali melancarkan gelombang serangan baru terhadap Tehran pada Minggu (1/3). Iran lalu membalas dengan serangan rudal tambahan. Aksi ini terjadi sehari setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei yang mendorong Timur Tengah dan ekonomi global ke dalam ketidakpastian yang semakin dalam.
Berdasarkan sumber dan pejabat pelayaran, serangan balasan Iran telah merusak setidaknya tiga kapal tanker yang berada di lepas pantai teluk, serta menewaskan seorang awak kapal. Tak hanya itu, serangan AS dan Israel juga merusak kapal-kapal di sekitar area konflik.
Diprediksi Naik US$ 100 per barel
Banyak analis memprediksi kenaikan besar-besaran harga minyak dunia, bahkan bisa menembus US$ 100 per barel. Meskipun Iran hanya bertanggung jawab atas 3-4% produksi minyak global, kedekatannya dengan Selat Hormuz, yang dianggap sebagai titik krusial terpenting dalam rantai pasokan minyak dunia, telah mendorong analis minyak untuk menaikkan proyeksi harga minyak di masa depan.
Gangguan yang berkepanjangan terhadap lalu lintas di selat tersebut, di mana seperlima produksi minyak dunia diangkut, dapat menyebabkan harga minyak melampaui US$ 100 per barel. Ini prospek yang akan merugikan ekonomi global dan mendorong kenaikan harga yang sudah sulit dikendalikan.
Kelompok negara produsen minyak OPEC+ sepakat untuk meningkatkan produksi mulai April, dalam upaya menenangkan pasar.
“Jika konflik berlarut-larut, khususnya, jika hal itu mempengaruhi pasokan minyak aktual akibat gangguan pada pasokan Iran atau upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar US$ 100 per barel,” kata William Jackson, ekonom pasar negara berkembang utama di Capital Economics, dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip DW.com.