Bahlil Sebut Pemerintah Belum Berencana Menaikkan Harga BBM Subsidi

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi meski terjadi perang di Timur Tengah.
Penulis: Mela Syaharani
3/3/2026, 18.30 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil menanggapi terjadinya konflik Timur Tengah yang mengakibatkan naiknya harga minyak dunia mendekati angka US$ 80 per barel.

“Sampai dengan rapat tadi belum ada (keputusan kenaikan). Jadi aman-aman saja, hari raya dan puasa yang baik, Insya Allah belum ada kenaikan harga BBM,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3).

Dia menyebut BBM yang dijual di Indonesia memiliki dua jenis, yakni BBM subsidi dan non-subsidi. Untuk BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite, besaran harganya diatur oleh pemerintah baik itu naik atau turun. 

Selama belum ada keputusan pemerintah, maka harga BBM subsidi tidak akan berubah meski harga minyak dunia naik. Sementara itu, untuk BBM non-subsidi dia menyebut diserahkan kepada pergerakan harga pasar. 

Indonesia hingga saat ini masih mengimpor BBM RON 90, RON 92, RON 95, dan RON 98. Kendati demikian, porsi impor ini tidak bersumber dari negara-negara Timur Tengah yang sedang berperang.

“Impor dilakukan di luar Timur Tengah, termasuk di dalamnya Asia Tenggara. Jadi relatif tidak ada masalah,” ujarnya.

Meski harga BBM subsidi tak berubah, Bahlil menyebut konflik ini memang membuat harga minyak mentah Indonesia (ICP) melampaui asumsi APBN. Tahun ini besaran ICP US$ 70 per barel, namun pagi ini harga minyak dunia sudah mencapai US$ 78-80 per barel.

Bahlil menyebut Indonesia perlu hati-hati karena kondisi tersebut. Pasalnya, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada kenaikan subsidi yang ditanggung negara.

Di sisi lain, kenaikan harga ICP ini juga menyumbang pendapatan bagi negara sebab Indonesia masih memproduksi 600 ribu barel minyak per hari (bph).

“Selisih (produksi dan impor) sedang kami hitung. Arahan Bapak Presiden harus berhati-hati sekaligus memastikan ketersediaan BBM untuk pelayanan kepada masyarakat,” ucapnya.

Tidak hanya harga, Bahlil juga menjamin ketersediaan pasokan BBM jelang Idulfitri 2026. Dia menyebut persediaan BBM, minyak mentah, hingga LPG Indonesia berada di atas rata-rata standar nasional.

“Standar minimal kan 21 hari, semuanya (BBM-LPG) di atas itu. Tapi faktanya ketahanan energi kita maksimal di angka 25-26 hari, tidak lebih dari itu,” katanya.

Potensi Kenaikan Harga BBM

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menilai serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dan respons agresif Iran berpotensi mengerek harga bahan bakar minyak atau BBM. Konflik di Timur Tengah itu dapat menganggu pasokan minyak dunia. 

“Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi, kali ini suplai dari Amerika akan meningkat dan OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi) juga meningkatkan kapasitasnya,” kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2 / 3). 

Ia mengatakan, pasokan minyak akan terganggu karena penutupan Selat Hormuz. Airlangga mengatakan, pemerintah akan memantau sejauh mana konflik tersebut berlangsung. 

Airlangga memastikan, pemerintah sebelumnya telah memiliki kesepakatan untuk mendapatkan pasokan minyak dari negara di luar Timur Tengah. 

“Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” ujarnya.  

Ketika ditanya apakah akan melirik minyak dari Rusia, Airlangga tidak menutup kemungkinan tersebut.  “Ya, tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” katanya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani