RI Berencana Bangun Penyimpanan Minyak, Kapasitas Tampung Pasokan 90 Hari
Pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan atau storage minyak bumi yang bisa menampung pasokan untuk penggunaan 90 hari. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kapasitas penyimpanan milik Indonesia saat ini hanya mampu menampung persediaan 25-26 hari saja.
“Kami sedang berusaha untuk membangun storage yang bisa tampung persediaan 3 bulan, sesuai standar internasional,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3).
Berdasarkan ketentuan Badan Energi Internasional (EIA), standar cadangan minyak negara setara dengan 90 hari impor bersih tahun sebelumnya. Salah satu negara anggota IEA yakni Jepang memiliki ketahanan minyak sebanyak 254 hari.
Menurut Bahlil, satu-satunya jalan untuk menambah kapasitas storage dilakukan dengan membangun fasilitas baru. “Kalau kita mau impor sebanyak itu, kira-kira mau di mana? Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tapi harus diperbaiki,” ujarnya.
Fasilitas storage baru ini akan dibangun di Pulau Sumatra, namun Bahlil belum merincikan lokasinya. Pemerintah saat ini sedang melakukan studi kelayakan (FS) storage tersebut.
“Ditargetkan pembangunannya sudah dilakukan mulai tahun ini,” katanya.
Bahlil mengatakan saat ini stok ketahanan BBM Indonesia berada di level 23 hari. Angka tersebut masih berada di atas standar minimum yang ditetapkan pemerintah.
Ketahanan Minyak Jepang
Menurut laman resmi IEA, data ketahanan minyak Jepang sebanyak 206 hari per November 2025. Kendati demikian Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan, Jepang memiliki stok ketahanan minyak untuk 254 hari, pada Senin (2/3).
Takaichi juga memastikan pasokan energi tetap stabil di tengah penutupan jalur pengiriman minyak Selat Hormuz di Timur Tengah. Dia menyebut pemerintah saat ini sedang mengumpulkan informasi terkait penutupan Selat Hormuz, sebab jalur tersebut merupakan rute krusial bagi Jepang.
“Beberapa kapal tanker minyak mentah yang menuju Jepang sedang bersiap di Teluk Persia dan keamanan awak kapal terjamin,” kata Takaichi dikutip dari dikutip dari The Mainichi, Selasa (3/3).
Jepang siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika ada dampak ekonomi imbas konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. “Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil ke negara kami,” ujarnya.