Bahlil Sebut Sudah Ada Investor untuk Proyek Pembangunan Storage Minyak

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). Dalam ART itu pemerintah Indonesia sepakat untuk mengimpor migas hingga 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 253,47 triliun per tahun dari Amerika Serikat untuk ketahanan energi dalam negeri.
Penulis: Mela Syaharani
5/3/2026, 08.00 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia saat ini sudah memiliki investor yang akan membangun proyek penyimpanan (storage) minyak bumi. Pemerintah memang berencana membangun fasilitas ketahanan energi berkapasitas 90 hari sesuai dengan standar internasional.

Menurut Bahlil, saat ini kapasitas penyimpanan dalam negeri hanya mampu menampung maksimal 25 hari persediaan minyak. “Investasi dan investornya sudah ada, sudah siap,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Rabu malam (4/3).

Bahlil mengatakan pembangunan storage merupakan satu-satunya strategi yang bisa dilakukan pemerintah agar kapasitas penyimpanan minyak nasional bisa bertambah. Investor proyek ini berasal dari dalam dan luar negeri.

Namun Bahlil menyebut investor ini tidak berasal dari Amerika Serikat (AS). Pembangunan ini juga akan melibatkan pihak swasta. Jenis storage yang akan dibangun pemerintah adalah tempat penyimpanan untuk minyak mentah. Pemerintah saat ini masih mengkalkulasi apakah pembangunan storage juga dilakukan untuk BBM.

“Kalau BBM itu kan sebenarnya di kilang, tinggal kami minta ke Pertamina untuk menambah tangki-tangkinya,” ujarnya.

Storage ini juga merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan agar fasilitas ini segera terbangun. Hal ini bertujuan agar Indonesia bisa bertahan.

Kapasitas Tampung 90 Hari

Pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan atau storage minyak bumi yang bisa menampung pasokan untuk penggunaan 90 hari. Bahlil menyebut kapasitas penyimpanan milik Indonesia saat ini hanya mampu menampung persediaan 25-26 hari saja.

“Kami sedang berusaha untuk membangun storage yang bisa tampung persediaan 3 bulan, sesuai standar internasional,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3). 

Berdasarkan ketentuan Badan Energi Internasional (EIA), standar cadangan minyak negara setara dengan 90 hari impor bersih tahun sebelumnya. Salah satu negara anggota IEA yakni Jepang memiliki ketahanan minyak sebanyak 254 hari.

Menurut Bahlil, satu-satunya jalan untuk menambah kapasitas storage dilakukan dengan membangun fasilitas baru.  “Kalau kita mau impor sebanyak itu, kira-kira mau di mana? Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tapi harus diperbaiki,” ujarnya.

Fasilitas storage baru ini akan dibangun di Pulau Sumatra, namun Bahlil belum merincikan lokasinya. Pemerintah saat ini sedang melakukan studi kelayakan (FS) storage tersebut. “Ditargetkan pembangunannya sudah dilakukan mulai tahun ini,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani