Amerika Serikat Kaji Cabut Sanksi Minyak Rusia untuk Redam Harga
Amerika Serikat mempertimbangkan pencabutan lebih banyak sanksi terhadap minyak Rusia. Ini untuk meredakan harga minyak karena dampak perang Iran.
Sebelumnya, AS merestui India untuk membeli minyak dari Rusia. Namun, Negeri Abang Sam kemungkinan akan memperluas relaksasi kepada Rusia terkait pembelian minyak.
“Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya. Ada ratusan juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi berada di laut," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dikutip dar Fox News via Antara, Sabtu (7/3).
Bessent mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump berencana mengumumkan langkah untuk mengurangi tekanan di pasar energi global.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Lalu lintas di jalur perairan tersebut melambat setelah AS dan Israel menyerang Iran dan memicu serangan balik dari Teheran ke negara-negara Teluk.
Sedangkan penasihat ekonomi Kremlin, Kirill Dmitriev, mengatakan bahwa ia tengah membahas kemungkinan pencabutan sanksi dengan AS. Dmitirev lalu mengkritik Barat yang sempat menghukum Rusia.
"Sanksi Barat telah terbukti merugikan ekonomi dunia," kata Dmitriev dikutip dari The Guardian.
Harga minyak acuan dunia mengalami kenaikan harga mingguan terbesar sejak 2022. Kondisi ini terjadi karena ada perang yang memicu gelombang gangguan di pasar energi global yang dirasakan oleh produsen, importir, hingga industri logistik.
Harga minyak Brent pada Jumat (6/3) naik menjadi US$ 83,33 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate juga bergerak ke angka US$ 78,61. Minyak acuan AS ini juga mengalami kenaikan harga 17% minggu ini.
Departemen Keuangan AS juga mengeluarkan dispensasi sementara agar India bisa membeli minyak mentah dari Rusia.