Produsen Utama Pangkas Produksi, Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel
Harga minyak mentah melonjak di atas US$ 100 per barel, pada Minggu (8/3), setelah sejumlah produsen utama di Timur Tengah memangkas produksi karena Selat Hormuz ditutup akibat perang Iran.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 18,98%, atau US$ 17,25 menjadi US$ 108,15 per barel pada pukul 18:12 ET. Harga minyak mentah yang menjadi acuan global, yakni Brent naik 16,19%, atau US$ 15,01 menjadi US$ 107,70. Minyak mentah AS melonjak sekitar 35% pekan lalu, kenaikan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka sejak 1983.
Harga minyak dunia terakhir kali melampaui US$ 100 per barel adalah setelah Rusia menyerang Ukraina pada 2022.
Kuwait, produsen terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pemotongan produksi minyak dan output kilang secara preventif pada Sabtu (7/3) karena ancaman Iran terhadap keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz. Perusahaan minyak negara Kuwait, Petroleum Corporation, tidak merinci besaran pemangkasan produksi tersebut.
Produksi minyak di Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, telah anjlok secara signifikan. Produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak telah turun 70% menjadi 1,3 juta barel per hari, menurut tiga pejabat industri yang diwawancarai Reuters pada Minggu (8/3). Ladang-ladang tersebut sebelumnya memproduksi 4,3 juta barel per hari sebelum perang dengan Iran.
Uni Emirat Arab (UEA), produsen terbesar ketiga di OPEC, mengatakan mereka mengelola tingkat produksi lepas pantai dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan. Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) mengatakan operasinya di darat terus berlanjut secara normal.
Negara-negara Arab Kehabisan Ruang Penyimpanan Minyak
Menurut laporan CNBC, negara-negara di Teluk Arab mengurangi produksi karena kehabisan ruang penyimpanan. Barel minyak menumpuk tanpa tempat untuk disimpan akibat penutupan Selat Hormuz. Kapal tanker enggan melintasi perairan sempit tersebut karena khawatir Iran akan menyerang mereka. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui Selat Hormuz.
Perang tersebut menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda meskipun Presiden Donald Trump mengklaim bahwa perang tersebut “sudah dimenangkan.” Menurut laporan media setempat, Iran telah menunjuk putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi barunya. Amerika Serikat dan Israel membunuh Khamenei pada hari-hari awal perang.
Menteri Energi Chris Wright mengatakan lalu lintas melalui Selat Hormuz akan kembali normal setelah AS menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker.
“Kita tidak akan lama lagi sebelum Anda melihat pemulihan lalu lintas kapal yang lebih teratur melalui Selat Hormuz,” kata Wright kepada CNN.
“Saat ini, kita masih jauh dari lalu lintas normal. Itu akan memakan waktu. Tapi sekali lagi, skenario terburuk adalah beberapa minggu, bukan (dalam hitungan) bulan.”