Harga Minyak Dunia Tembus US$ 107/Barel, Imbas Meluasnya Perang Iran dan AS

QatarEnergy
Salah satu fasilitas kilang LNG milik QatarEnergy.
Penulis: Mela Syaharani
9/3/2026, 09.16 WIB

Harga minyak acuan dunia mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meluasnya perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.

Harga minyak Brent naik 16,4% atau US% 15,24 menjadi US$ 107,93 per barel pada Senin pagi (9/3). Sementara Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 16,50, atau 18,2%, menjadi $107,40 per barel.

Hal itu menyebabkan beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah memangkas pasokan. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan titik krusial. 

Irak dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak serta Qatar yang makin mengurangi produksi gas alam cair (LNG). Kondisi ini terjadi sebab perang Timur Tengah telah menghambat proses pengiriman produksi migas dari kawasan tersebut.

Analis memprediksi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga harus memangkas produksi minyak mereka dalam waktu dekat karena cadangan penyimpanan minyak mereka menipis.

Perang ini dapat membuat konsumen dan bisnis di seluruh dunia menghadapi kenaikan harga bahan bakar selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan jika perang ini berakhir cepat, dampaknya tetap lama karena pemasok migas menghadapi kondisi fasilitas yang rusak, proses logistik yang terganggu, serta risiko pengiriman yang meningkat.

“Saya pikir harga telah naik tajam pagi ini karena laporan produsen minyak di Timur Tengah kini mengurangi produksi akibat fasilitas penyimpanan yang cepat terisi penuh,” kata analis komoditas senior di ANZ, Daniel Hynes dikutip dari Reuters, Senin (9/3).

Produksi minyak Irak dari ladang minyak utamanya di selatan telah turun 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Tiga sumber mengatakan negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat perang dengan Iran.

“Penyimpanan minyak mentah telah mencapai kapasitas maksimum,” kata seorang pejabat dari Perusahaan Minyak Basra yang dikelola negara.

Sementara itu, perusahaan minyak Kuwait mulai memangkas produksi minyak pada Sabtu (7/3) dan menyatakan force majeure untuk pengiriman, meskipun tidak menyebutkan berapa banyak produksi yang akan dihentikan.

Serangan Iran terhadap infrastruktur minyak di seluruh wilayah terus berlanjut. Kantor Media Fujairah mengatakan kebakaran terjadi di zona industri minyak Fujairah di UAE akibat puing-puing yang jatuh meski tanpa laporan ada korban cedera. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan di X bahwa mereka mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani