Panic Buying Jelang Lebaran, Antrean BBM Mengular di Sejumlah SPBU Daerah

ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj.
Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/2/2026).
9/3/2026, 13.28 WIB

Antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sejumlah daerah. Kondisi tersebut disebabkan panic buying masyarakat terhadap pasokan BBM jelang lebaran.

Daerah yang terjadi anrean BBM tersebut di antaranya  di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan Provinsi Aceh.  

"Saya terpaksa mengantre di SPBU karena memang BBM sepeda motor saya habis," kata salah seorang warga di Kecamatan Kaliwates, Yuliati Ningsih, seperti dikutip Antara, Senin (9/3).

Saat datang ke SPBU Tegalbesar, lanjut dia, antrean juga sudah panjang pada pagi hari. Situasi ini tidak seperti pada hari sebelumnya yang masih normal pengendara yang antre BBM di SPBU tersebut.

"Saya menyayangkan kepanikan masyarakat yang melakukan aksi borong BBM hingga menyebabkan antrean panjang di SPBU Tegalbesar mencapai 150 meter lebih. Mudah-mudahan kondisi seperti itu segera berakhir," ujar dia.

Hal senada juga dikeluhkan oleh warga lainnya Hamidah yang mengantre di SPBU Ahmad Yani karena BBM di sepeda motornya sudah hampir habis.

"Memang biasanya saya beli BBM tiga hari sekali di SPBU karena memang kebutuhan untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Saya juga kaget kok antre panjang sekali saat membeli BBM di SPBU, padahal biasanya normal," katanya.

Pantauan di lapangan, aparat kepolisian turun di sejumlah SPBU untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan mengatur arus lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan parah di sekitar SPBU tersebut.

Antrean BBM juga terjadi di hampir semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Aceh. Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengingatkan masyarakat tidak melakukan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) karena merupakan tindak pidana.

"Kami ingatkan masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan serta tidak menimbunnya. Penimbunan BBM merupakan tindakan ilegal dan dapat dipidana karena merugikan masyarakat," kata Marzuki Ali Basyah di Banda Aceh, Jumat (6/3).

Perwira tinggi Polri itu menyebutkan pelaku penimbunan BBM dapat dikenakan sanksi sesuai Pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi. Ancaman pidananya maksimal enam tahun penjara dan denda paling banyak Rp60 ribu.

Selain penimbunan, Kapolda Aceh juga mengingatkan pedagang eceran tidak menjual BBM di atas harga normal. Penjualan dengan harga di atas normal merupakan tindak pidana yang merugikan masyarakat. Marzuki Ali Basyah mengimbau masyarakat tidak membeli BBM secara berlebih-lebihan. Pasokan BBM di wilayah Aceh dan distribusinya berjalan normal.

"Informasi beredar di masyarakat terkait angka 20 hari bukan menunjukkan keterbatasan pasokan BBM, melainkan cadangan operasional yang disiapkan untuk menjaga stabilitas distribusi," katanya.

Pertamina telah menyampaikan bahwa angka 20 hari yang dimaksud adalah cadangan operasional BBM. Bahkan secara kapasitas penyimpanan, pasokan BBM dapat menampung hingga sekitar 25 sampai 26 hari.

"Polda Aceh terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Selain itu, jajaran kepolisian juga melakukan langkah-langkah preventif dengan memberikan pengamanan di sejumlah SPBU," kata Marzuki Ali Basyah.

Pertamina Sebut Pasokan BBM Nasional Aman

PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan terkendali. Stok BBM yang berada pada kisaran sekitar 21 hari merupakan stok / pasokan operasional yang secara normal dikelola dalam sistem logistik energi nasional guna menjamin kelancaran distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun menjelaskan bahwa pasokan operasional dimaksud adalah pasokan bbm yang disimpan dan sudah memenuhi kapasitas penimbunan bbm secara nasional yang akan disalurkan kepada masyarakat, jumlah pasokan tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui atau dipenuhi kembali sesuai dengan kebutuhan konsumsi energi masyarakat.

“Stok sekitar 21 hari yang dikelola Pertamina Patra Niaga merupakan stok bbm yang secara normal selalu dijaga dalam sistem logistik energi nasional. Stok ini terus dilakukan re-fill atau penambahan produk melalui produksi dari kilang domestik maupun pengadaan impor yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya, secara rutin berkala juga dilakukan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (6/3).

Ia menambahkan, Pertamina Patra Niaga memiliki sistem pengelolaan rantai pasok energi yang terintegrasi, mulai dari pengadaan minyak mentah dan produk BBM, pengolahan di kilang, transportasi, hingga distribusi ke berbagai wilayah Indonesia. Sistem ini memastikan ketersediaan energi tetap terjaga dan dapat diakses masyarakat secara merata.

Menanggapi dinamika geopolitik global, termasuk perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, Pertamina Patra Niaga juga telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.

“Pertamina Patra Niaga terus memantau perkembangan situasi global dan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, antara lain melalui diversifikasi sumber pasokan minyak mentah dan produk BBM, penguatan ketahanan logistik dan distribusi, optimalisasi operasi kilang dalam negeri, serta peningkatan koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Roberth.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pertamina Patra Niaga memastikan rantai pasok energi nasional tetap berjalan dengan baik sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal. Lebih lanjut Roberth mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan (panic buying). Pembelian yang tidak wajar justru berpotensi mengganggu distribusi yang seharusnya berjalan normal.

“Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak. Pembelian BBM sesuai kebutuhan akan membantu menjaga distribusi tetap stabil sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh akses energi secara merata,” ujarnya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara