Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Sejak 2022, Bisa Capai US$150 per Barel

123rf.com/Supakit Poroon
Ilustrasi kilang minyak, BBM
9/3/2026, 14.51 WIB

Harga minyak acuan dunia tembus US$ 110 per barel pada Senin (9/3). Angka ini merupakan kali pertama sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Kenaikan harga saat ini terjadi beriringan dengan perang Timur Tengah melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang membuat jalur vital pengiriman minyak Selat Hormuz tertutup. Kondisi ini juga membuat terjadinya penutupan sumur minyak di Timur Tengah.

Menurut Bloomberg, harga dua minyak acuan yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik sekitar 50-60% sejak konflik dimulai pada Sabtu (28/2).

Perang Timur Tengah ini telah menghentikan lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau seperlima dari pasokan minyak mentah laut dunia, melintasi perairan tersebut yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional setiap hari.

Data dari Vortexa menunjukkan sekitar 16 juta barel per hari minyak tertahan di belakang selat dan terputus dari pasar global.

“Penutupan Selat Hormuz selama beberapa minggu akan memicu efek domino yang dapat mendorong harga minyak mentah mencapai $150 atau lebih tinggi.” kata Analis strategi Macquarie, Vikas Dwivedi dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3).

Perang yang melibatkan tiga negara ini pada awalnya bersifat lokal dan berfokus pada penghancuran kapasitas nuklir Iran serta berpotensi memicu perubahan rezim. Namun saat ini, perang tersebut telah meluas menjadi perang yang melanda Timur Tengah.

Bandara, gedung apartemen, pangkalan militer, dan infrastruktur lainnya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan sejumlah negara lain telah menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Langit di atas Iran gelap gulita pada akhir pekan setelah depot bahan bakar di dekat kota Teheran dan Kharaj dihantam serangan udara.

Konflik tersebut juga semakin berfokus pada infrastruktur energi di seluruh kawasan, mengancam rantai pasokan yang sudah berada di ambang batas. Pabrik pengolahan minyak Bapco Energies di Bahrain telah diserang, kilang Ras Tanura di Arab Saudi juga dihentikan operasinya, dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar telah menyatakan force majeure. 

Kapal tanker minyak di Teluk Persia telah diserang oleh rudal dan drone, dan Garda Revolusi Iran telah mengancam akan menggunakan kekerasan terhadap kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Meskipun mereka menyatakan bahwa jalur tersebut “terbuka.”

Saat ini sudah tidak lagi tersedia fasilitas penyimpanan negara di Timur Tengah, menyebabkan produsen minyak disana mengurangi porsi produksi. Hal ini menandakan kekurangan pasokan yang lebih parah di pasar. Irak telah memangkas 60% produksi minyaknya dan Kuwait juga mulai menghentikan produksi. 

Menurut penelitian dari analis JPMorgan Chase, jika Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui, pemangkasan produksi diperkirakan akan meningkat menjadi 3,3 juta barel per hari pada hari kedelapan, 3,8 juta barel per hari pada hari ke-15, dan 4,7 juta barel per hari pada hari ke-18. 

Laporan akhir pekan menunjukkan Iran juga menargetkan infrastruktur sipil yang kritis. Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyebut sebuah pabrik desalinasi besar telah rusak akibat serangan drone Iran. Pabrik desalinasi sangat penting di Timur Tengah untuk menyediakan air minum di seluruh wilayah.

Kenaikan harga minyak juga mulai berdampak pada konsumen Amerika di pompa bensin. Rata-rata nasional harga bensin di seluruh negeri mencapai US$ 3,450 per galon pada Minggu, 15% di atas rata-rata US$ 2,984 seminggu sebelumnya.

Ekonom di Goldman Sachs menulis jika harga minyak naik secara sementara menjadi $100 per barel, bank memperkirakan inflasi global dapat naik sebesar 0,7 poin persentase dan pertumbuhan global dapat melambat sebesar 0,4 poin persentase.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani