Prabowo Waspada Dampak Konflik Global ke RI, Harga Energi dan Pangan Terancam
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan konflik yang terjadi di Iran dan Ukraina saat ini berpotensi menimbulkan dampak perekonomian bagi Indonesia. Ia menyampaikan eskalasi konflik global berpotensi menimbulkan berbagai tantangan yang dapat memengaruhi situasi domestik, mulai dari harga energi hingga komoditas pangan yang sensitif terhadap gejolak geopolitik.
“Akibat perang di Timur Tengah, kita harus siap menghadapi kesulitan. Tetapi sekali lagi, kita bersyukur bahwa sebenarnya bangsa Indonesia punya kekuatan,” kata Prabowo saat menyampaikan sambutan dalam peresmian pembangunan 218 jembatan, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Senin (9/3).
Kendati demikian, Prabowo menilai Indonesia memiliki sejumlah kekuatan untuk menghadapi tekanan global akibat gejolak perang. Ia menyebut, berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia dapat menjadi modal untuk menjaga ketahanan nasional di tengah situasi dunia yang tidak menentu saat ini.
Prabowo menyebut modal SDA yang terkandung di dalam negeri dapat diolah menjadi komoditas alternatif untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi domestik dalam menghadapi dampak konflik global. Peningkatan produksi dalam negeri diharapkan dapat meminimalkan ketergantungan pada impor serta menjaga stabilitas pasokan kebutuhan dasar masyarakat.
Ketua Umum Partai Gerindra itu mencontohkan upaya pemerintah dalam mendorong swasembada pangan. Menurutnya, langkah itu menjadi penting terutama ketika berbagai konflik di dunia memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi memengaruhi harga pangan. “Kita bersyukur bahwa swasembada pangan hampir kita capai,” ujarnya.
Prabowo juga mengatakan Indonesia telah mencapaian swasembada beras sebagai makanan pokok masyarakat. Ia turut menyebut pemerintah tengah mendorong peningkatan produksi dalam negeri agar kemampuan pemenuhan kebutuhan protein nasional segera tercapai. “Apa pun terjadi di mana bangsa-bangsa lain banyak akan mengalami kesulitan, minimal kita aman masalah pangan,” kata Prabowo.
Prabowo sebelumnya mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada beras pada 31 Desember 2025 lalu. Cadangan beras pemerintah pun mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, melebihi 3 juta ton.
Lebih jauh, Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu juga menyinggung upaya pemerintah dalam mendorong swasembada energi, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan BBM. Prabowo mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan impor dengan memanfaatkan sumber energi berbasis tanaman.
Ia menyebut sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu dapat diolah menjadi sumber energi alternatif guna memenuhi kebutuhan BBM nasional. “Kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita,” ujar Prabowo.