RI Bakal Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS, Brasil, dan Australia
Pemerintah tengah menyiapkan skenario alternatif pasokan minyak mentah (crude) akibat penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, sebagian sumber impor minyak mentah yang selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah akan dialihkan ke sejumlah negara, termasuk AS dan Brasil.
Bahlil menyampaikan hal tersebut selepas menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (12/3). “Harus ada alternatif-alternatif yang akan dipakai ketika kondisi Selat Hormuz masih seperti ini,” ujarnya setelah pertemuan.
Langkah diversifikasi impor minyak itu diharapkan dapat memenuhi pasokan energi domestik di tengah gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz. “Saya sudah laporkan (ke presiden) bahwa kita akan mengonversi minyak mentah dari Timur Tengah ke AS seperti Nigeria, Brasil, Australia, dan beberapa negara lain,” ujarnya.
Pada 11 Februari lalu, Bahlil memberikan sinyal akan membeli produk minyak dari AS dengan nilai US$ 15 miliar. Selain itu, peningkatan impor produk petroleum dari AS dilakukan dengan mengalihkan kuota impor dari negara lain.
Bahlil mengatakan, volume pembelian minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara bakal dikurangi seiring rencana peningkatan impor dari AS. Pemerintah berencana menambah volume impor minyak mentah dari AS hingga 40% dari total kebutuhan dalam negeri.
Menurut dia, Indonesia baru membeli minyak mentah dari AS sekitar 4% untuk pemenuhan domestik. Selain itu, pemerintah juga berencana menaikan porsi impor LPG dari AS hingga 80-85% untuk kebutuhan nasional.