Iran Ledakkan 3 Kapal Asing di Teluk Persia, Ancam Harga Minyak Bisa ke US$ 200
Tiga kapal asing dihantam Iran di Teluk Persia, pada Kamis (12/3). Insiden ini terjadi setelah tiga kapal terpisah mengalami kerusakan di perairan Teluk sehari sebelumnya.
Serangan Iran terhadap kapal-kapal yang berlayar melalui atau berada di dekat Selat Hormuz yang strategis meningkat. Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang memasok 20% minyak dunia, ditutup sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Iran memperingatkan harga minyak dunia berpotensi naik hingga US$ 200 per barel dengan penutupan dan intensitas serangan yang dilakukan negara tersebut terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan sebuah kapal kontainer dihantam oleh proyektil yang tidak diketahui sekitar 35 mil laut di utara Jebel Ali, sebuah kota pelabuhan utama dekat Dubai di Uni Emirat Arab, pada Kamis (12/3). Insiden tersebut menyebabkan kebakaran kecil di atas kapal, semua awak dilaporkan selamat.
Sebelumnya, dua kapal tanker minyak asing terbakar di perairan Irak setelah dihantam di dekat pelabuhan Umm Qasr, dekat kota Basra, Irak.
Laporan media setempat yang mengutip pernyataan pejabat Irak menyatakan setidaknya satu orang tewas dalam serangan itu. Sebanyak 38 awak kapal diselamatkan dari kapal-kapal tersebut. Perusahaan Umum Pelabuhan Irak tidak segera memberikan komentar mengenai serangan tersebut ketika dikonfirmasi oleh CNBC.
Lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz praktis terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melewati selat tersebut, dengan beberapa insiden dilaporkan dalam beberapa hari terakhir.
Jalur air yang sempit ini merupakan koridor maritim utama yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% minyak dan gas global biasanya melewati jalur ini.
Serangan terhadap kapal-kapal komersial di Teluk telah meningkatkan kekhawatiran akan guncangan ekonomi yang berkepanjangan.
“Bersiaplah untuk harga minyak mencapai US$ 200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi,” kata Ebrahim Zolfaqari, juru bicara komando militer Iran, pada Rabu (11/3), seperti dikutip Reuters.
Alat untuk Menekan Musuh
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Kamis (12/3), tak lama setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap tertutup sebagai “alat untuk menekan musuh.” Mojtaba adalah putra Ayatollah Ali Khamenei, yang dibunuh oleh AS dan Israel dalam serangan pembuka perang.
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak diangkat, Mojtaba Khamenei juga mengatakan bahwa semua pangkalan militer AS di Timur Tengah harus segera ditutup karena pangkalan-pangkalan tersebut akan diserang.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei diperdagangkan 8% lebih tinggi pada US$ 99,35 per barel, pada Kamis (12/3). Brent adalah harga minyak yang menjadi acuan global. Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April naik 8,2% menjadi US$ 94,52 per barel.
Pada hari Rabu (11/3), IEA mengatakan 32 negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, menandai penarikan terkoordinasi terbesar sejak badan tersebut dibentuk setelah embargo minyak tahun 1973.