Atasi Gangguan Pasokan Imbas Perang Iran, Jepang Lepaskan Cadangan Minyak
Jepang melepaskan cadangan minyak nasional mereka pada periode 16 Maret hingga 15 April mendatang. Hal ini dilakukan seiring dengan kondisi perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang mengancam ketahanan energi di negara-negara pengimpor.
Cadangan yang dilepaskan berasal dari stok minyak yang disimpan oleh perusahaan penyulingan dan merupakan bagian dari cadangan strategis negara.
“Akan ada rumus sementara untuk menghitung volume yang diperlukan,” kata pemerintah Jepang dalam pernyataan resmi, dikutip dari Bloomberg, Senin (16/3).
Pasar minyak global bergejolak sejak terjadinya perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak Sabtu (28/2). Perang yang terjadi di Timur Tengah ini membuat Iran menutup akses Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia.
Jepang merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk impor minyaknya. Menurut Asosiasi Minyak Bumi Jepang, pada 2024 porsi impor dari kawasan tersebut mewakili 96% total kebutuhan.
Pelepasan Cadangan Minyak untuk Stabilkan Ekonomi
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan Jepang akan melepaskan 80 juta barel minyak untuk menstabilkan perekonomian. Dia menyebut pemerintah akan melanjutkan langkah tersebut secara sepihak. Meski belum tercapainya kesepakatan yang lebih luas di antara anggota Badan Energi Internasional (IEA) mengenai pelepasan minyak hingga 400 juta barel.
“Jepang akan menjual minyak dari cadangan nasionalnya dengan harga sebelum dimulainya perang,” kata Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Ryosei Akazawa, pada Jumat (13/3) lalu.
Ia membuka kemungkinan produk surplus yang dihasilkan dari minyak mentah tersebut dapat dikirim ke luar negeri jika permintaan lokal tidak cukup kuat.
Di samping itu, Presiden AS Donald Trump berharap negara-negara lain termasuk Jepang, Cina, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris akan mengirim kapal militernya untuk bergabung dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Kendati demikian Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan kepada parlemen bahwa negara tersebut tidak memiliki rencana untuk mengirim kapal perang ke kawasan Teluk.