Bahlil Sebut Indonesia Buka Peluang Impor Minyak dari Rusia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia membuka peluang impor minyak dari Rusia.
“Kenapa tidak? Amerika Serikat saja sekarang sudah membuka (opsi) untuk (minyak) Rusia,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Selasa (17/3).
Indonesia termasuk sebagai negara pengimpor minyak di dunia. Total kebutuhan dalam negeri saat ini lebih dari 1,5 juta barel per hari (bph). Sementara produksi dalam negeri berkisar 600 ribu bph, sehingga sisa kebutuhan dipenuhi dari impor.
Tak hanya Rusia, menurutnya posisi Indonesia saat ini membuka potensi impor minyak dari seluruh negara yang ada di dunia.
“Yang penting bagi kita sekarang bagaimana ketersediaan barang dan harganya kompetitif,” ujarnya.
Bahlil juga sebelumnya menjajaki peluang impor minyak mentah (crude) dari Brunei Darussalam. Hal ini terjadi ketika dua negara mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama di sektor energi. Mulai dari pemanfaatan EBT hingga teknologi Enhanced Oil Recovery yang digunakan Pertamina untuk meningkatkan produksi minyak.
“Kami katakan kalau mereka punya sumber cas yang memuat bahan baku LPG (C3 dan C4) bisa diambil. Bisa juga kami bangun industri LPG disana kemudian produksinya dikirim ke dalam negeri,” ucapnya.
Thailand Mulai Negosiasi Minyak dengan Rusia
Wakil Perdana Menteri Thailand, Phipat Ratchakiprakarn sebelumnya mengatakan Thailand siap memulai negosiasi dengan Rusia terkait pasokan minyak, pasca pencabutan sanksi minyak Moskow oleh Amerika Serikat.
“Ada kabar baik: dari pernyataan Amerika Serikat diketahui bahwa AS telah menghentikan boikot terhadap ekspor minyak Rusia, sehingga Thailand akan menjadi salah satu negara yang kini mulai bernegosiasi dengan Rusia untuk pembelian minyak mentah,” kata Ratchakiprakarn kepada wartawan, Jumat (13/3).
Negosiasi tersebut, lanjutnya, akan diprakarsai oleh Kementerian Energi Thailand. Ratchakiprakarn mengatakan bahwa saat ini Thailand memiliki cadangan minyak mentah yang cukup untuk 98 hari proses pengolahan minyak.
Ia menambahkan bahwa krisis di Timur Tengah mengancam pasokan minyak dari Teluk Persia, yang biasanya mencakup sekitar 50 persen dari impor Thailand. Sementara 50 persen sisanya berasal dari sumber alternatif.