Pertamina Geothermal Pastikan Operasional PLTP Terjaga Saat Lebaran

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa
Petugas mengecek instalasi di PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). Pertamina menargetkan penurunan 30 persen emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tahun 2030 diantaranya melalui pemanfaatan energi rendah karbon dan efisiensi energi sebagai komitmen perseroan terhadap implementasi Environmental, Social and Governance (ESG). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa
Penulis: Karunia Putri
Editor: Reza Pahlevi
20/3/2026, 11.15 WIB

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memastikan operasional pembangkit listrik berbasis panas bumi (PLTP) tetap terjaga selama periode libur dan mudik Idulfitri 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan untuk menjaga sistem kelistrikan nasional di tengah peningkatan kebutuhan energi dan mobilitas masyarakat pada periode Lebaran.

PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW). Perseroan menguasai sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia.

Kontribusi tersebut tercermin dari sejumlah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang dioperasikan di berbagai wilayah. PLTP Kamojang Kabupaten Bandung, misalnya, memasok listrik ke lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari. Sementara PLTP Lahendong menyuplai lebih dari 30% kebutuhan listrik Sulawesi Utara dan Gorontalo, serta PLTP Ulubelu menopang sekitar 20% kebutuhan listrik Lampung.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, pemanfaatan energi panas bumi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasokan listrik sekaligus mendukung penyediaan energi ramah lingkungan.

“PGE berkomitmen memastikan pasokan listrik berbasis panas bumi tetap terjaga secara optimal, sehingga masyarakat dapat merayakan hari raya dengan tenang dan penuh kehangatan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (20/3).

Sebelumnya, PGEO menyampaikan tengah menjajaki pengembangan teknologi panas bumi hingga ke Filipina. Perseroan mengunjungi lapangan panas bumi wet steam terbesar di dunia milik Energy Development Corporation (EDC) di Leyte pada Februari lalu.  

Kunjungan itu menjadi langkah PGEO untuk mengoptimalkan pengembangan teknologi panas bumi melalui penerapan Flow2Max. Flow2Max adalah teknologi pengukuran dua fase (two-phase flow meter) yang memungkinkan pemantauan aliran fluida secara real-time sehingga operator dapat mengevaluasi kinerja dan memprediksi produktivitas sumur panas bumi dengan lebih akurat.

Dalam kunjungan ke lapangan panas bumi milik EDC, PGEO membahas potensi penerapan perdana teknologi Flow2Max hingga memperluas peluang kolaborasi internasional. Untuk diketahui, inovasi teknologi Flow2Max dikembangkan dari riset studi  Husni saat menempuh pendidikan di University of Auckland.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri