Trump Tuduh Serangan Iran ke Kapal Minyak Picu Lonjakan Harga Bahan Bakar
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyalahkan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik sebagai dampak dari serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker minyak di sekitar area Selat Hormuz.
Menurutnya, serangan-serangan itu disebut memicu gangguan distribusi energi global di kawasan Timur Tengah. Meski begitu, Donald Trump menilai kenaikan harga BBM bersifat sementara.
“Kenaikan jangka pendek ini sepenuhnya merupakan akibat dari serangan teror gila-gilaan rezim Iran terhadap kapal tanker minyak komersial dan negara-negara tetangga yang tidak ada hubungannya dengan konflik tersebut,” kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (1/4), sebagaimana dikutip dari kanal Youtube The White House.
Laporan The Guardian pada 31 Maret lalu menyebutkan harga BBM di AS terus melonjak di tengah tekanan konflik dengan Iran yang mengganggu pasokan energi dunia. Harga bensin di sejumlah wilayah seperti di pantai barat (west coast) mendekati US$ 6 per galon.
Kondisi ini tercermin dari situasi di negara bagian seperti California yang mencatat harga rata-rata hampir US$ 5,9 per galon. Sementara harga BBM di Washington berada di kisaran US$ 5,35 per galon.
Reli harga BBM keduanya berada di atas rata-rata nasional yang telah menembus US$ 4,02 per galon. Kenaikan harga BBM ini tergolong signifikan, mengingat level sebelumnya masih berada di kisaran US$ 2,98 per galon bulan lalu.
Dalam pidatonya kali ini, Trump menyampaikan komitmennya untuk menuntaskan konflik dengan Iran dalam waktu dekat. Ia menyebut dorongan tersebut juga datang dari keluarga para korban yang meminta pemerintah AS menyelesaikan operasi militer secara tuntas.
“Kami akan menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat,” ujarnya.
Trump juga menyampaikan apresiasi kepada sekutu-sekutu utama AS di Timur Tengah, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain.
Ia mengatakan Washington tidak akan membiarkan negara-negara tersebut mengalami kerugian akibat konflik bersenjata yang tengah berlangsung saat ini.
Trump juga menawarkan kepada negara-negara di dunia untuk beralih membeli minyak dari AS di tengah Perang Iran yang memicu ketidakstabilan pasokan energi global.
Trump menyebut negara-negara yang terdampak gangguan distribusi minyak karena pembatasan akses pelayaran di Selat Hormuz dapat mengandalkan pasokan energi dari AS.
Politisi Partai Republik itu menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi atas ketergantungan sejumlah negara terhadap jalur energi Timur Tengah yang kini rentan akibat eskalasi militer.
“Saya punya saran. Pertama, beli minyak dari Amerika Serikat. Kami punya banyak (minyak). Kami punya begitu banyak,” kata Trump.
Pada kesempatan tersebut, Trump menyatakan kapasitas produksi minyak dan gas di AS saat ini melebihi kemampuan gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Ia mengklaim kapasitas tersebut diperkuat oleh kebijakan energi domestik yang agresif, termasuk peningkatan eksplorasi dan produksi dalam negeri.
Trump menyebut capaian kapasitas produksi energi AS saat ini tanpa memperhitungkan atau di luar tambahan pasokan jutaan barel dari Venezuela. “AS memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada Arab Saudi dan Rusia. Bayangkan itu, gabungan Arab Saudi dan Rusia,” ujarnya.