Harga Minyak Turun di Tengah Sinyal Perpanjangan Gencatan Senjata Iran dan AS

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Pekerja berjalan di kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022).
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy
16/4/2026, 09.55 WIB

Harga minyak acuan dunia turun tipis di tengah sinyal perpanjangan gencatan senjata Perang Timur Tengah selama dua minggu. Amerika Serikat (AS) dan Iran berpeluang melanjutkan pembicaraan untuk mengakhiri perang yang telah mengguncang pasar energi.

Harga minyak acuan Brent turun 0,5% menjadi US$ 94,50 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,8% menjadi US$ 90,60 per barel.

Perang Timur Tengah telah menutup akses Selat Hormuz sejak akhir Februari. Jalur ini menjadi rute penghubung Teluk Persia ke pasar global.

Pengiriman minyak dari kawasan tersebut masih lumpuh seiring konflik mendekati akhir pekan ketujuh. Awal pekan ini, AS menerapkan blokade laut untuk membatasi lalu lintas Iran. Sementara Teheran menutup jalur strategis tersebut bagi sebagian besar kapal lainnya.

“Iran menilai blokade berkepanjangan oleh AS sebagai sinyal awal potensi pelanggaran gencatan senjata,” kata Komandan Markas Militer Gabungan Iran, Ali Abdollahi, dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/4).

Ia memperingatkan Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor maupun impor terjadi di Teluk Persia, Laut Oman, maupun Laut Merah jika blokade terus berlanjut.

Pasar minyak mentah terguncang akibat konflik ini, yang memicu gangguan pasokan besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini juga meningkatkan tekanan inflasi sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi. 

Para pejabat keuangan yang berkumpul di Washington DC, AS, pekan ini mengaku khawatir terhadap ketidakpastian arah selanjutnya. Menteri Keuangan Selandia Baru, Nicola Willis mengatakan, perang tersebut membuat seluruh dunia menjadi lebih miskin.

“Dalam jangka pendek, saya melihat pasar mulai menyadari bahwa pembeli panik sudah keluar dari pasar. Pada akhirnya, semuan akan bergantung pada kesepakatan damai dan seberapa aman jalur pelayaran di selat tersebut,” kata Kepala Perdagangan Energi di Bok Financial Securities Inc, Dennis Kissler.

Di Amerika Serikat terjadi penurunan stok minyak mentah dan seluruh kategori utama produk olahan. Permintaan luar negeri yang meningkat mendorong ekspor minyak dan bahan bakar ke rekor tertinggi, terutama karena pembeli di Asia mencari pasokan alternatif.

Selain penurunan stok, kondisi perang juga menaikkan harga BBM di sana. Harga rata-rata bensin nasional terakhir berada di sekitar US$ 4,11 per galon, dibandingkan kurang dari US$ 3 sebelum perang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, penurunan harga bahan bakar akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi untuk mengakhiri perang, sekaligus meyakinkan pasar bahwa harga bensin akan mereda selama periode penting musim perjalanan musim panas.

Sejumlah hambatan masih tersisa setelah pembicaraan awal di Pakistan akhir pekan lalu gagal menghasilkan kesepakatan. Para mediator kini berupaya mengatur pembicaraan teknis untuk menyelesaikan isu-isu paling sensitif, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan program pengayaan nuklir Iran.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani