Harga Minyak Turun Tipis saat Trump Perpanjang Gencatan dan Blokade Selat Hormuz

ANTARA
Ilustrasi harga minyak mentah dunia turun.
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy
22/4/2026, 08.04 WIB

Harga minyak acuan dunia turun tipis setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Hal ini terjadi meski pembicaraan damai tersendat dan blokade di Selat Hormuz tetap dilakukan oleh AS.

Harga minyak Brent turun 0,5% menjadi US$ 97,99 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 89,06 per barel.

Trump mengatakan, AS akan menahan diri dari serangan baru terhadap Iran, namun tetap mempertahankan blokade atas kapal-kapal Iran hingga pembahasan damai selesai.

Pergerakan harga minyak bergejolak akibat perkembangan perang di Timur Tengah dan tertutupnya akses pengiriman melalui Selat Hormuz. Rute tersebut merupakan jalur vital yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. 

Penutupan akses selat ini membuat volatilitas harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2020, saat pandemi Covid-19 menekan permintaan.

“Berita datang sangat cepat, tetapi barel minyak masih belum bergerak. Tarik ulur soal perpanjangan gencatan, potensi blokade, dan peran Iran membuat pasar gelisah, namun faktanya arus pasokan masih terbatas,” kata trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin, dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/4).

Kantor berita Tasnim melaporkan, Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Angkatan Laut AS terus mencegat kapal-kapal Iran. Jika perlu, Teheran akan memecah blokade dengan mengerahkan kekuatan.

Kemarin, AS menyatakan telah menghentikan dan menaiki sebuah tanker minyak yang dikenai sanksi, setelah sebelumnya menyita kapal kargo pada akhir pekan.

Minyak acuan Brent sempat melonjak di atas US$ 100 per barel dalam perdagangan kemarin setelah ada laporan Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan perjalanan ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Iran.

Lonjakan harga komoditas itu terjadi ketika media Iran melaporkan Teheran telah memberi tahu AS melalui Pakistan bahwa mereka tidak akan menghadiri perundingan di Islamabad. Harga kemudian turun setelah komentar Trump terkait perpanjangan gencatan senjata.

Negosiasi tersebut sebelumnya dipandang sebagai peluang terakhir untuk meredakan ketegangan sebelum gencatan dua minggu berakhir, sekaligus memperjelas apakah tanker-tanker minyak dunia akan segera bisa melintasi selat tersebut. Kedua pihak masih memiliki banyak isu yang belum terselesaikan, termasuk kemampuan nuklir Iran dan invasi Israel ke Lebanon.

“Departemen Keuangan AS akan terus menerapkan tekanan maksimum untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menghasilkan, memindahkan, dan memulangkan dana,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam unggahan di X. 

Ia menyebut penyimpanan energi Iran di Pulau Kharg akan penuh dan sumur-sumur minyak negara itu yang rapuh akan ditutup. Pulau Kharg menjadi lokasi utama ekspor minyak mentah Iran.

Iran mengekspor sebagian besar minyaknya ke kilang-kilang independen kecil di Cina yang relatif kurang terpapar pasar keuangan internasional. Beijing menentang sanksi sepihak Amerika tersebut.

“Yang paling penting bagi pasar minyak adalah kondisi Selat Hormuz. Tanpa kesepakatan damai, hampir tidak ada cara untuk membukanya kembali, sehingga kita terjebak dalam lingkungan harga minyak tinggi dan tekanan inflasi,” kata pendiri firma analisis Vanda Insights, Vandana Hari.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani