Produksi Emas dan Tembaga Freeport Turun 67% pada Kuartal 1 2026, Imbas Longsor

ANTARA FOTO/Dian Kandipi/wpa/hp.
Pekerja melintasi areal tambang bawah tanah Grasberg Blok Cave (GBC) yang mengolah konsentrat tembaga di areal PT Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (17/8/2022).
Penulis: Mela Syaharani
24/4/2026, 16.55 WIB

Freeport McMoran (FCX) melaporkan produksi emas dan tembaga anak usahanya PT Freeport Indonesia (PTFI) menurun pada kuartal 1 2026. Penurunan produksi dipengaruhi oleh insiden longsor yang terjadi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025. 

Longsor ini terjadi di salah satu dari lima blok produksi di GBC, tetapi mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung produksi blok lain.

Pada tiga bulan pertama jumlah produksi emas PTFI sebanyak 92 ribu ons, turun 67,61% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 284 ribu ons. Selain emas, penurunan produksi juga terjadi pada komoditas tembaga. PTFI memproduksi 95 ribu pon tembaga pada kuartal 1 2026, turun 67,91% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 296 ribu pon tembaga. 

Tak hanya produksi, penurunan kinerja juga terjadi pada jumlah penjualan emas dan tembaga. Volume penjualan konsolidasi PTFI sebesar 82 juta pon tembaga dan 116 ribu ons emas pada kuartal I 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan volume penjualan kuartal I 2025 yang mencapai 290 juta pon tembaga dan 125 ribu ons emas. 

“Penurunan ini mencerminkan tingkat operasi yang lebih rendah setelah insiden aliran lumpur pada September 2025,” kata FCX dalam laporan perusahaan dikutip Jumat (24/4).

Perusahaan memprediksi jumlah volume penjualan konsolidasi PTFI diperkirakan mencapai sekitar 0,7 miliar pon tembaga dan 650 ribu ons emas sepanjang 2026. Estimasi penjualan tahun 2026 ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Januari 2026 sebesar 0,9 miliar pon tembaga dan 0,8 juta ons emas. 

“Hal ini mencerminkan keterlambatan capaian peningkatan produksi penuh di GBC akibat kebutuhan modifikasi pada infrastruktur pemuatan bijih,” ujar FCX.

Volume Produksi Tembaga dan Emas 2026 Diperkirakan Lebih Tinggi

Kendati demikian, perusahaan memproyeksi volume produksi tembaga dan emas PTFI akan lebih tinggi dibandingkan volume penjualan sepanjang 2026. Hal ini menandakan adanya penundaan penjualan sekitar 100 juta pon tembaga dan 50 ribu ons emas yang tersimpan di fasilitas peleburan atau smelter PTFI.

Pada kuartal I 2026, PTFI juga membukukan keuntungan sebesar US$ 0,7 miliar (Rp 12,06 triliun, kurs Rp 17.240/US$) dari penyelesaian klaim asuransi terkait insiden aliran lumpur pada September 2025. Hal ini berdasarkan polis properti dan gangguan usaha. PTFI memperkirakan akan menerima dana tersebut pada kuartal II 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani