Indonesia Diminta Tiru Pusat Energi Terbarukan di India, Malaysia hingga Afrika
Studi terbaru Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Systemiq menjelaskan peran kawasan energi terbarukan atau renewable energy zones (REZ) sebagai penyelaras target pertumbuhan ekonomi dan transisi energi Indonesia.
REZ merupakan area pengembangan di mana pembangkitan, jaringan transmisi, dan pusat permintaan listrik energi terbarukan terintegrasi dalam suatu kawasan. Pusat permintaan dapat mengacu ke area seperti kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, atau kawasan industri berkelanjutan.
Direktur Systemiq Batari Saraswati mengatakan, konsep ini sudah banyak diterapkan di negara lain, di antaranya di India, Malaysia, Afrika Selatan, dan Australia.
“Di mana energi transisinya, penerapan energi terbarukannya, diselaraskan dengan strategi industri,” kata Batari, dalam diskusi publik ‘Reframing Renewable Energy for Economic Growth: REZ as an Enabling Instrument, di Jakarta, Selasa (28/4).
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan pengembangan 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam tiga tahun menjadi momentum penting penerapan skema REZ di Indonesia.
“Roadmap 100 GW ini membutuhkan sinergi antara perencanaan, tidak hanya dari sisi suplai tapi juga dari demand, jadi siapa yang akan menyerap kapasitas energi ini,” ujar Batari.
Berdasarkan studi bertajuk ‘Mempercepat Transisi Energi Industri Indonesia: Peran Kawasan Energi Terbarukan (Renewable Energy Zones)’ itu, ada tiga arketipe REZ global yang relevan untuk diterapkan di Indonesia. Ketiga arketipe yang dimaksud adalah REZ terintegrasi jaringan, REZ yang ditetapkan untuk industri, dan REZ teknologi bersih.
REZ Integrasi Jaringan di India
REZ terintegrasi jaringan adalah klaster atau zona energi baru terbarukan yang dirancang untuk memasok jaringan listrik nasional atau regional dan peningkatan infrastruktur utama. Distribusi energi ini dilakukan melalui jaringan yang sudah direncanakan.
Arketipe ini berorientasi pada transmisi kuat berskala multi-gigawatt. Dibangun di lokasi kaya sumber daya dan minim penduduk, kawasan ini bergantung pada pembangunan baru atau penguatan transmisi tegangan tinggi untuk menyalurkan daya ke pusat-pusat permintaan yang berjauhan.
Salah satu penerapannya dilakukan di Bhadla Solar Park di Rajasthan, India. Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat PLTS berbiaya rendah yang memanfaatkan potensi radiasi surya tertinggi di India.
Bhadla menjadi ‘taman surya’ terbesar di dunia dengan kapasitas PLTS terpasang sekitar 2,5 GW, serta menarik investasi hingga US$1,3-1,9 miliar. Kawasan ini dapat menurunkan emisi jutaan CO2 per tahun, serta memiliki bankabilitas kuat melalui purchase power agreement terpusat dan integrasi jaringan yang didukung koridor transmisi.
Arkatipe ini dinilai relevan dilakukan di Indonesia. Model infrastruktur plug and play atau memanfaatkan jaringan yang sudah ada, cocok untuk menghadapi hambatan perizinan lahan dan ketidakpastian internal rate of return di Indonesia. Selain itu, tipe ini selaras dengan program 100 GW solar desa dan skema blended finance iklim.
Mencontoh Industrial-Designated REZ di Malaysia
REZ berbasis penetapan industri secara eksplisit menghubungkan sumber energi terbarukan dengan industri padat energi di pusat industri yang telah ditetapkan sejak awal. Contohnya Sarawak Corridor of Renewable Energy (SCORE).
Kawasan energi terbarukan ini memanfaatkan 4,46 GW energi air di Sarawak untuk industri dengan kebutuhan energi masif. SCORE menarik investasi hingga US$26-29 miliar dan membuka lebih dari 50.000 lowongan pekerjaan dengan menggerakkan klaster industri bertenaga hidro rendah karbon.
Pembangunan transmisi, fasilitas kawasan industri, layanan investasi, dan tarif energi baru terbarukan dikelola oleh otoritas tingkat koridor yang disebut RECODA. Penyelarasan pusat-daerah melalui satu otoritas koridor dinilai dapat diterapkan di Indonesia, khususnya di provinsi kaya sumber daya seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Utara.
Clean-Tech REZ ala Afrika Selatan
Tipe ini diterapkan pada Atlantis Special Economic Zones di Afrika Selatan, kawasan yang dibentuk untuk menghidupkan kembali zona industri dengan menjadikan manufaktur energi terbarukan sebagai peluru utama. Kawasan ini sekaligus melokalisasi rantai pasok dalam program pengadaan energi terbarukan nasional Afrika Selatan.
Atlantis SEZ didukung dengan perizinan yang cepat, insentif khusus KEK, serta insentif manufaktur hijau berupa keistimewaan pajak, kepabeanan, dan fasilitas ekspor di bawah pengelolaan operator publik ASEZCo.
Kawasan ini menghasilkan pipeline proyek energi baru terbarukan sekitar 700 MW, menarik investasi sebesar US$95 juta, dan menciptakan lowongan kerja hingga 6.000 orang.
Indonesia juga memiliki kawasan ekonomi khusus yang dapat diadaptasi untuk industri hijau berbasis REZ, seperti di Batang, Gresik, dan Kalimantan Utara. Konsep ini juga bisa diterapkan untuk mendukung program hilirisasi atau industri hijau di Indonesia. Sekaligus mendukung potensi ekspor ASEAN power grid.