Harga Minyak Stagnan, Pasar Fokus Prospek Perundingan AS-Iran

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022).
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy
29/4/2026, 09.42 WIB

Harga minyak bergerak stagnan saat pasar memusatkan perhatian pada langkah lanjutan perundingan damai AS-Iran terkait Selat Hormuz. Kondisi selat itu sekarang masih tertutup hampir seluruhnya, membuat gangguan pasok energi dunia semakin panjang.

Harga minyak Brent tidak berubah, bertahan di level US$ 111,49 per barel. Sementara West Texas Intermediate naik 0,2% menjadi US$ 100,10 per barel.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Iran telah meminta Washington untuk mencabut blokade angkatan laut di selat tersebut. Kedua negara saat ini masih bernegosiasi untuk mengakhiri permusuhan yang telah menghambat pasokan energi dari Timur Tengah.

Pejabat AS menyebut Trump telah menginstruksikan para pasukannya untuk bersiap menghadapi blokade berkepanjangan terhadap Iran.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), dalam sejumlah pertemuan terbaru, Trump memilih untuk terus menekan ekonomi dan ekspor minyak Iran dengan mencegah pengiriman dari pelabuhannya.

Gencatan senjata telah berlangsung sejak awal April. Namun, di saat yang sama, kedua negara mengalami kebuntuan dalam perundingan damai, meski blokade laut tampaknya memberi tekanan pada Teheran. 

Menurut Kpler Ltd, blokade ini membuat Iran dengan cepat kehabisan kapasitas penyimpanan minyak mentah, yang berpotensi mempercepat pemangkasan produksi.

“Kebuntuan ini bisa berlangsung berminggu-minggu. Bisa berakhir ketika pasar global memberi tahu Trump bahwa kondisi tak bisa menanggung lagi kekurangan minyak atau saat Iran mengatakan ingin kembali mengekspor minyaknya,” kata Kepala Kebijakan dan Risiko Geopolitik di Kpler, Michelle Brouhard, dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/4).

Mediator memperkirakan Teheran akan mengajukan proposal revisi untuk mengakhiri perang dalam beberapa hari ke depan. Iran menginginkan jalur perairan penting untuk pengiriman minyak itu dibuka. 

Selat Hormuz tidak dapat dilalui sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu. Hal ini mendorong kenaikan harga energi setelah aliran minyak mentah, gas alam, dan produk minyak terhenti. 

Perang ini memicu kekhawatiran krisis inflasi. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah.

Terbaru, konflik tersebut mendorong Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan keluar dari OPEC bulan depan setelah enam dekade menjadi anggota. UEA menyatakan kekurangan pasokan akibat perang, sehingga pemerintah setempat membutuhkan kelincahan dalam merespons permintaan pasar tanpa terikat pada proses pengambilan keputusan kolektif kelompok yang lebih luas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani