Bahlil Tawarkan Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Minyak ASEAN di Indonesia

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.
Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menyampaikan paparan hasil pertemuan KTT ke-48 ASEAN di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Penulis: Mela Syaharani
11/5/2026, 18.43 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia menawarkan diri menjadi lokasi pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak untuk wilayah Asia Tenggara. 

Rencana ini muncul dalam pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu Filipina, pekan lalu. Dalam agenda rutin tersebut negara anggota di kawasan ini merumuskan untuk membangun hub-storage cadangan minyak untuk ASEAN. 

Dia menyebut hingga saat ini belum ada detail rencana lebih lanjut, termasuk target waktu pembangunan bisa terlaksana. Sebab, pembangunan fasilitas penyimpanan minyak itu baru sebatas ide.

“Kami akan bangun storage di mana saja, tapi kemarin saya tawarkan untuk (bangun) di Indonesia. (Storage ini) dibangun dengan kapasitas besar agar bisa menyuplai ke negara-negara ASEAN,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (11/5).

Bahlil mengatakan Indonesia mengusulkan hal tersebut karena Indonesia sudah memulai tahapan menuju pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut. Saat ini pemerintah tengah menjalankan tahapan studi kelayakan (FS).

“Ide yang ada di ASEAN merupakan ide baik yang muncul saat kita sudah siap mengimplementasikan,” ujarnya.

Selain penawaran storage hub untuk ASEAN, Bahlil juga menyebut terkait rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Pulau Sumatra yang akan digunakan sebagai lokasi cadangan penyangga energi nasional.

Bahlil menyebut dalam KTT ASEAN juga dibahas mengenai pengoptimalan potensi sumber energi baru terbarukan (EBT), seperti yang dilakukan di Indonesia melalui rencana implementasi B-50 dan pembangunan PLTS 100 GW.

“Kemudian, kami melakukan kerja sama juga dengan Malaysia untuk PLTA power grid. Tapi saya pikir tidak hanya sampai ke sana, kemarin kita juga bahas tentang kerja sama pangan yang menjadi salah satu persoalan penting di kawasan di Asia Tenggara,” ucapnya.

Dari pertemuan negara-negara kawasan Asia Tenggara pekan lalu juga melahirkan komunikasi bilateral dengan beberapa delegasi menyangkut dengan power grid. Saat ini Indonesia sudah memiliki jaringan listrik yang terhubung dengan Malaysia. Di masa depan, jaringan ini akan diperluas ke negara lain.

“Sebentar lagi akan masuk Filipina, dan memang Singapura juga meminta. Ini sebenarnya ide yang bagus, selama saling menguntungkan. Seperti kita melakukan kerja sama Indonesia untuk impor listrik Malaysia dari PLTA melalui Kalimantan,” katanya.

Dia menyebut untuk rencana ekspor akan dilakukan jika harga yang disepakati bagus dan menguntungkan.

“Selama itu belum win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam,” kata Bahlil.

Bahas Myanmar hingga Konflik Timur Tengah

Menteri Luar Negeri RI Sugiono sebelumnya mengatakan KTT ASEAN ke-48 di Filipina membahas sejumlah permasalahan. Beberapa topik yang disebutkan adalah terkait situasi Myanmar, konflik Thailand-Kamboja, hingga masalah ketahanan pangan serta energi. 

Sugiono menyebut masalah Myanmar dibahas saat sesi retret KTT ASEAN pada Jumat (8/5). Pemerintah Myanmar saat ini dipimpin berdasarkan hasil pemilu yang sudah terlaksana sebelumnya.

“Dari awal posisi Indonesia, jika pemilu tersebut berlangsung, maka harus inklusif dan mampu menangani masalah serta menciptakan situasi yang lebih baik. Tentu saja ini berpegang pada lima poin konsensus yang harus dilaksanakan di Myanmar,” kata Sugiono saat ditemui di Cebu, Filipina, Sabtu (9/5).

Hal kedua yang dibahas dalam KTT berkaitan dengan kondisi geopolitik Timur Tengah. Negara anggota ASEAN mengungkapkan respons dalam menyikapi situasi tersebut, sebab perang ini memberikan efek langsung terhadap kehidupan di kawasan ini khususnya di sektor ekonomi seperti ketersediaan pangan dan energi.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh dengan situasi ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN sebuah wilayah yang resilien, khususnya di bidang energi dan pangan,” ujarnya.

Menurutnya, ketahanan pangan dan energi merupakan dua hal yang harus bisa dipenuhi di Indonesia. Dia menyebut kondisi konflik ini menyadarkan negara di ASEAN bahwa meski perang ini berlangsung di kawasan yang jauh dari Asia Tenggara, namun cepat atau lambat akan langsung berimbas pada seluruh kehidupan masyarakat. 

Tak hanya itu, dalam gelaran rutin ini juga terjadi beberapa kesepakatan, seperti ASEAN Petroleum Security Agreement, kemudian juga APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Security) yang menjadi target dari pertemuan KTT kemarin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani