Jadi Tulang Punggung Migas RI, PHE Hadapi Tantangan Penurunan Produksi
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mempertahankan posisi sebagai kontributor utama produksi migas nasional. Pada 2025, perusahaan menyumbang sekitar 65% lifting minyak nasional.
"Sedangkan untuk gas, kita berkontribusi 35% lifting gas domestik untuk performance satu data di tahun 2025," kata Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Awang Lazuardi, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Senin (25/5).
Pertamina Hulu Energi mencatat produksi migas sebesar 1,332 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD) sepanjang 2025. Produksi itu berasal dari kombinasi produksi minyak dan gas dari aset domestik maupun internasional yang dikelola perusahaan.
Awang menjelaskan, produksi minyak PHE pada 2025 mencapai 556 ribu barel per hari (barrel oil per day/BOPD), terdiri dari produksi domestik sebesar 396 ribu BOPD dan produksi internasional 160 ribu BOPD.
Sementara itu, produksi gas tercatat mencapai 2.757 MMscfd, dengan kontribusi domestik sebesar 2.451 MMscfd dan internasional 306 MMscfd.
"Jika produksi gas itu di-convert, di-equivalent-kan dengan minyak, atau yang biasanya disebut dalam satuan barrel oil equivalent per day, maka di tahun 2025 produksi baik yang domestik maupun internasional mencapai 1.332.000 barrel oil equivalent per day," ujar Awang.
Hadapi Tantangan Penurunan Produksi
Meski mencatat produksi yang tinggi, Awang mengatakan industri hulu migas menghadapi tantangan besar berupa penurunan produksi alamiah atau natural decline. Menurut dia, rata-rata tingkat penurunan alamiah produksi minyak mencapai 24% per tahun, sementara gas sekitar 21%.
"Jika kita tidak melakukan apa-apa, produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24%, sedangkan untuk gas akan turun sebesar 21%," kata Awang.
Untuk menjaga tingkat produksi, PHE menjalankan berbagai program pengembangan lapangan. Sepanjang 2025, perusahaan melakukan pemboran pengembangan atau eksploitasi hampir 900 sumur, lebih dari 1.300 aktivitas workover, serta lebih dari 37 ribu kegiatan well intervention.
Selain mengoptimalkan aset eksisting, PHE juga memperluas portofolio eksplorasi melalui perolehan sejumlah wilayah kerja baru dalam periode 2022–2025, antara lain Pinayan, Lavender, dan Bobara.
Menurut Awang, wilayah kerja tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan produksi di masa depan apabila kegiatan eksplorasi menghasilkan temuan yang signifikan.
"Ini akan menjadi nafas kita ke depan, ini akan menjadi game changer kita apabila kita melakukan eksplorasi di sini dan memberikan hasil yang cukup signifikan," ujarnya.
Di saat yang sama, perusahaan juga terus mengembangkan teknologi untuk meningkatkan produksi dari lapangan yang telah beroperasi. Strategi yang ditempuh antara lain melalui pengembangan enhanced oil recovery (EOR), baik menggunakan teknologi steam flood maupun chemical injection, serta penerapan multistage fracturing.
Awang menegaskan berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan produksi migas nasional di tengah tantangan penurunan alamiah lapangan-lapangan yang sudah matang dan mendukung target ketahanan energi nasional.