Purbaya Respons Ajakan Pindah ke Pertalite Usai Harga Pertamax Naik

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencetak defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026.
11/6/2026, 20.01 WIB

Ramai ajakan di media sosial agar masyarakat beralih menggunakan Pertalite pasca kenaikan harga Pertamax. Menanggapi hal ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah belum menghitung secara rinci dampak perpindahan konsumsi tersebut terhadap anggaran subsidi.

 “Kami tidak hitung. Tapi begini, pasti ada berapa persen yang pindah,” ujar Purbaya saat ditemui di kompleks DPR, Jakarta, Kamis (11/6).

Meski demikian, Purbaya meyakini tidak semua pengguna Pertamax akan beralih ke BBM subsidi. Menurut dia, sebagian konsumen tetap akan menggunakan Pertamax karena sudah memahami kebutuhan bahan bakar yang sesuai untuk kendaraannya.

 “Harusnya tidak semuanya pindah. Karena yang beli Pertamax tahu mobilnya (hanya) cocok untuk Pertamax,” katanya.

Saat ditanya mengenai proyeksi Kementerian Keuangan terkait persentase perpindahan konsumen ke Pertalite, Purbaya mengaku belum ada perhitungan resmi. Ia menyarankan agar pertanyaan tersebut ditujukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

 “Kami belum hitung. Mungkin tanya Pak Bahlil yang mengerti itu,” ujarnya.

Sementara itu, dilansir dari Antara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut perpindahan konsumen atau shifting dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi hingga kini belum terjadi secara masif.

“Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya,” ujar Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.

 Anggia mengatakan, sejauh ini perpindahan yang terlihat justru berasal dari konsumen Pertamax Turbo yang beralih menggunakan Pertamax.

Menurutnya, pemerintah tetap mengantisipasi potensi perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite dengan memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi. Salah satu langkah yang dilakukan yakni penerapan kode batang (QR code) dalam pembelian Pertalite.

“Meskipun perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite belum masif, kami sudah mengantisipasi dengan penggunaan QR code untuk pembelian Pertalite, serta memerintahkan Pertamina untuk meningkatkan pengawasan pembelian Pertalite,” katanya.

Namun demikian, Anggia mengakui masih ada kemungkinan penyalahgunaan sistem tersebut oleh oknum tertentu. Karena itu, pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk menggunakan BBM subsidi secara tepat sasaran terus meningkat.

 “Walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini (QR code). Yang paling penting adalah kesadaran dari masyarakat yang tumbuh. Mana haknya dan mana yang bukan haknya,” ujar Anggia.

Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax RON 92 dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan sebesar sekitar 32 persen tersebut diumumkan secara mendadak dan memicu beragam respons di media sosial, termasuk ajakan agar masyarakat beralih menggunakan Pertalite atau BBM subsidi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah