Harga Minyak Terus Turun Dekati US$ 75 per Barel, Selat Hormuz Mulai Ramai Lagi
Harga minyak dunia terus mengalami penurunan, saat ini tarifnya sudah mendekati US$ 75 per barel. Hal ini terjadi imbas meningkatnya lalu lintas kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz, serta kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga Brent turun 0,5% menjadi US$ 76,68 per barel pada pukul 10.11 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate juga turun 0,5% menjadi US$ 72,82 per barel.
Kontrak berjangka minyak telah turun lebih dari sepertiga dari level tertinggi selama masa perang, sebagian didorong oleh ekspektasi adanya peningkatan pasokan minyak mentah. AS untuk sementara mengizinkan pembelian minyak Iran sebagai bagian dari proses diplomatik, membantu upaya para penjual untuk menarik minat kilang-kilang terbesar di Asia.
Produsen di Teluk Persia, termasuk Uni Emirat Arab, bergerak cepat untuk memulihkan ekspor. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), UEA telah memulihkan hampir 85% tingkat produksi sebelum perang, menjadi sinyal kemampuan kawasan untuk kembali meningkatkan pasokan.
Kuwait juga telah mencabut status force majeure yang sebelumnya diberlakukan, sementara Irak juga meningkatkan produksinya.
Kendati demikian, terdapat tanda-tanda pengetatan pasokan di beberapa pasar, termasuk di AS. American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, turun lagi sebanyak 1 juta barel pada pekan lalu.
Jika data resmi yang akan dirilis nanti mengonfirmasi laporan tersebut, maka persediaan akan turun di bawah 20 juta barel, level yang secara luas dianggap sebagai batas minimum operasional.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengatakan telah menerima jaminan keselamatan yang memungkinkan ratusan kapal keluar dari Teluk Persia. Jalur Selat Hormuz sebelumnya telah tertutup selama beberapa bulan terakhir karena terjadi perang antara AS, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Kini eskalasi geopolitik di kawasan tersebut semakin landai, AS dan Iran sama-sama mengisyaratkan kemajuan awal perundingan damai untuk mengakhiri perang yang meletus sejak akhir Februari 2026. Meski begitu, proses perundingan damai ini diproyeksi memerlukan waktu panjang sebab kedua pihak masih mengungkapkan klaim kesepakatan yang berbeda.
Walaupun begitu, di saat yang bersamaan Iran dan Oman mulai mengerjakan kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, termasuk biaya transit, di tengah kekhawatiran bahwa Iran dapat mengenakan pungutan untuk jalur pengiriman vital ini.
“Masih banyak pertanyaan ke depan, terkait penggantian pasokan, waktu tunggu pemuatan, serta kapan Cina kembali aktif membeli,” kata analis minyak dan gas di Enverus, Carl Larry dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/6).
Di AS, kelompok senat yang dikuasai Partai Republik telah memilih untuk mengakhiri perang AS dengan Iran. Hal ini terjadi dalam sebuah teguran simbolis yang jarang terjadi terhadap Presiden Donald Trump.
Meskipun resolusi tersebut tidak sepenuhnya bisa mengubah strategi pemerintahan, namun langkah ini menjadi tanda bahwa presiden tidak memiliki dukungan domestik yang kuat untuk upaya tersebut.