Harga Minyak Terus Turun Meski Ada Gangguan Pelayaran Kapal di Selat Hormuz
Harga minyak acuan dunia terus turun dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terjadi karena lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat, meski serangan terhadap sebuah kapal kargo memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.
Harga minyak Brent turun 1,0% menjadi US$ 74,51 per barel pada pukul 10.15 waktu Singapura. Sepekan terakhir, harga Brent telah turun 7%. Adapun harga minyak West Texas Intermediate turun 0,9% menjadi US$ 71,26 per barel.
Kapal-kapal kargo sebelumnya telah kembali melintasi Selat Hormuz secara terbuka usai kemajuan menuju kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diperkirakan akan menambah jutaan barel pasokan ke pasar global.
Walaupun pembicaraan damai kedua negara akan berlangsung panjang terutama kaitannya dengan kebijakan nuklir, harga minyak berjangka telah turun tajam dalam beberapa waktu terakhir dan kini berada di jalur penurunan yang terjadi dalam tiga minggu secara berturut-turut.
Meski trennya menurun, harga minyak sempat naik setelah sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dihantam proyektil yang belum diketahui asalnya saat berlayar di tenggara Oman.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tersebut. Pejabat itu menyebut tidak ada korban jiwa maupun kerusakan lingkungan, dan kapal tersebut masih dapat melanjutkan pelayarannya.
Insiden ini terjadi ketika sejumlah kapal niaga memutuskan berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz. Insiden ini memunculkan keraguan mengenai seberapa cepat arus pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal.
IMO Setop Sementara Evakuasi Kapal di Selat Hormuz
Organisasi Maritim Internasional (IMO), regulator pelayaran global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga mengumumkan penghentian sementara operasi evakuasinya di kawasan selat tersebut.
Kini terdapat dua jalur utama keluar-masuk melalui Selat Hormuz, karena jalur normal di bagian tengah diyakini telah dipasangi ranjau. Satu jalur berada di dekat wilayah Iran, sementara jalur lainnya mengikuti garis pantai Oman dan berada di bawah perlindungan Amerika Serikat.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan pelayaran melalui rute di luar kerangka yang ditetapkannya tidak akan mendapatkan jaminan pelayaran yang aman.
“Serangan tersebut memicu aksi short covering,” kata Senior Vice President Trading di BOK Financial Securities Inc. Dennis Kissler, dikutip dari Bloomberg, Jumat (26/6).