ESDM Beri Sinyal Harga BBM Nonsubsidi Belum Turun Bulan Depan

ANTARA FOTO/Andri Saputra/nz
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax ke tangki sepeda motor di SPBU Batu Anteru, Ternate, Maluku Utara, Rabu (10/6/2026). PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Maluku Utara dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter yang berlaku mulai 10 Juni pukul 00.00 WIT, sementara harga BBM subsidi jenis Pertalite tetap Rp10.000 per liter.
30/6/2026, 19.46 WIB

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi sinyal belum ada potensi penyesuaian harga bahan bakar (BBM) non-subsidi bulan depan. 

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan pada kondisi normal harga BBM non-subsidi akan disesuaikan ketika harga minyak dunia turun. Hal ini sesuai dengan isi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM, bahwa penyesuaian harga dilakukan di setiap awal bulan.

Kendati demikian, dia menyebut hal ini belum tentu terjadi sebab saat ini sedang ada kondisi khusus.

“Tapi balik lagi (penyesuaian harga) tidak seperti membeli pisang goreng ketika harga turun langsung bisa (berubah). Ada periodisasi waktu pembelian BBM per berapa bulan. Ini butuh antisipasi,” kata Anggia saat ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (30/6).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemerintah belum dapat memastikan penurunan harga BBM nonsubsidi meski harga minyak dunia mulai melemah di kisaran US$ 70 per barel dalam beberapa pekan terakhir.

"Kita lihat saja (penyesuaian harga BBM bulan depan)," ujarnya usai konferensi pers bersama Pimpinan DPR, di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin (29/6).

Menurutnya, pemerintah sudah menahan harga BBM nonsubsidi lebih dari 3 bulan, sementara kenaikan harga BBM non-subsidi baru terjadi sekitar 3 pekan terakhir. 

"Teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masak baru naik dua minggu atau tiga minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu. Kenapa waktu kemarin kok tidak tanya (harga BBM) enggak diturunkan?" ujar Bahlil.

Harga Pertamax telah naik 32,11% dibandingkan awal bulan Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter per Rabu (10/6).  Bahlil menyebut kenaikan ini karena pergerakan untuk jenis BBM nonsubsidi memang mengikuti harga pasar. 

Meski harga BBM non-subsidi naik, Bahlil menjamin hal tersebut tidak akan terjadi di BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite. Asalkan nilai rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) tidak melampaui harga batas yang ditetapkan pemerintah.

“Pemerintah sejak awal mengatakan sekalipun ada geopolitik dan penutupan Selat Hormuz, harga subsidi BBM dan LPG tidak naik sampai rata-rata ICP US$ 100 per barel. Alhamdulillah (BBM) subsidi tidak naik (harganya),” ujarnya. 

Pertamina Patra Niaga menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax hanya setengah atau 50% dari selisih harga pasar.  

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan kenaikan harga karena Pertamax series merupakan BBM nonsubsidi, harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku.

Perusahaan mengatakan kenaikan harga ini mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional, dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri.  

“Jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga ASEAN tetap lebih kompetitif agar menjaga daya beli dan perekonomian,” kata Roberth dalam siaran pers, Kamis (18/6).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani